Ada 3 kelompok Paduan Suara tingkat Paroki di Paroki St. Herkulanus, yaitu: (1) P.S. GITA BAKTI HERKULANUS yang berlatih rutin tiap minggu sore, (2) P.S. IUVENISH CHORUS yang beranggotakan para OMK Paroki Santo Herkulanus, (3) P.S. SERAFIM yang beranggotakan para Pengurus dan Karyawan Yayasan Yohanes Paulus Depok.

Sabtu, 24 Oktober 2015

Fenomena Misa Latin Tridentin

Misa Tridentin merupakan salah satu bentuk Misa Ritus Romawi yang mengacu pada Missale Romanum yang diterbitkan Paus Yohanes XXIII pada 1962. Di Indonesia, Misa ini masih dipraktikkan.

Mereka yang menghayati tata liturgi yang tidak biasa (for­ma extraordinaria) ini tergabung dalam kelompok-kelompok kecil yang tersebar. Dari pengamatan HIDUP, setidaknya praktik Misa ini berlangsung di Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Bahkan, tidak hanya Misa Tridentin tetapi juga pemberkatan perkawinan, pemberkatan ibu-ibu hamil, dan pemberkatan rumah. Keberadaan komunitas ini dan informasi tentang Misa Tridentin juga dapat ditemukan di akun facebook “Kami Cinta Ritus Tridentin”, situs “www.misa1962.org”, dan blog "http://tradisikatolik.blogspot.com”.

Sutradara dan aktor kondang Mel Gibson, kabarnya secara rutin juga merayakan Misa Tridentin di gereja tradisional dekat rumahnya di Malibu, California. Tetapi, ia mengikuti ajaran komunitas Society of Pius X (SSPX), pengikut Marcel Lefebvre, uskup agung yang diekskomunikasi Gereja Katolik pada 1998. Tetapi, pada 2008, Paus Benediktus XVI telah mencabut ekskomunikasi tersebut.

Misa Tridentin sebenarnya adalah bentuk liturgi Misa yang digunakan oleh Gereja di seluruh dunia sejak 1570. Liturgi Misa Tridentin yang sekarang digunakan adalah Missale Romanum yang diterbitkan Paus Yohanes XXIII. Misa Tridentin dirayakan dengan menggunakan bahasa Latin. Sedangkan liturgi Misa yang umum dipakai sekarang mengacu pada Missale Romanum Paulus VI yang diterbitkan setelah Konsili Vatikan II (1962-1965). Liturgi Misa Paulus VI ini disebut bentuk liturgi biasa (forma ordinaria), dengan menggunakan berbagai bahasa sesuai kebutuhan umat setempat.

Trend di Indonesia

Di Indonesia sudah terbentuk beberapa komunitas pencinta Misa Tridentin. Misalnya, Kelompok Studi Liturgi Santo Petrus di Jakarta. Andre Prasetya dipilih sebagai koordinator kelompok ini. Pada 2009 Andre mengenal Misa Tridentin tatkala diajak adiknya untuk mengikuti Misa Tridentin yang diorganisasi oleh Thomas Rudy Haryanto. Andre mengatakan, jumlah umat yang hadir sangat tergantung pada tempat di mana Misa diselenggarakan. Misalnya, di Kembang Wangi, biasanya dihadiri 10-20 orang; ketika diselenggarakan di Inti College, jumlah umat sekitar 15-40 orang. Jumlah umat yang hadir bisa mencapai 5.000 orang, ketika Misa diadakan di gereja.

Dalam Misa biasa, Doa Syukur Agung dibacakan secara lantang oleh imam. Sedangkan dalam Misa Tridentin, imam membacakannya secara ‘bisik-bisik’. Selain itu, bacaan epistola hanya ada satu, sedangkan bacaan Injil ada dua. Injil kedua dibacakan di akhir Misa dan selalu diambil dari Injil Yohanes 1.

Aktivis Misa Tridentin dari Kelompok Studi Liturgi Santo Petrus, Thomas Rudy Haryanto, mengenal Misa Tridentin melalui buku maupun internet. Ia menemukan, ternyata ada bentuk liturgi lain yang tidak biasa yang digunakan sebelum Konsili Vatikan II, yaitu Tridentin. Kemudian, pada 2007 muncul peraturan yang menyatakan dapat menggunakan bentuk liturgi yang tidak biasa tersebut. Selanjutnya, ia minta seorang imam untuk mempersembahkan Misa Tridentin. Misa perdana dirayakan di rumahnya pada 2008, atas izin pastor Kepala Paroki St Thomas Rasul, Bojong Indah, Jakarta Barat. Dan, Misa Tridentin ini berlanjut di rumah orangtuanya di Puri Kembangan, Jakarta Barat.

Rudy berpendapat, ada perbedaan aspek teologis antara Misa biasa dan Misa Tridentin. Misa biasa menekankan pada aspek kebersamaan, sedangkan Misa Tridentin menekankan pada aspek kurban. Misa Tridentin banyak membuat tanda salib, karena yang ingin ditonjolkan adalah kurban Kristus yang disalib. Ada sekitar 20 kali membuat tanda salib selama Misa. Selain itu, ada ‘acara’ penciuman altar yang dilakukan sekitar 10 kali. Peran imam sangat mencolok dalam Misa ini, karena ingin menonjolkan imam sebagai yang serupa dengan Kristus sendiri (in persona Christi). Hal ini berarti menekankan ajaran mengenai pentingnya Imamat Jabatan, dan perbedaannya dengan Imamat Umum kaum beriman. Lebih lanjut Rudy menjelaskan, Imamat Jabatan ditonjolkan agar kurban salib dapat terlaksana, yakni tanpa imam, tidak ada Misa.

Sementara di Surabaya, ada Kelompok Studi dan Koor Gregorian Schola Cantorum Surabaiensis (SCS) yang telah diberkati oleh Uskup Surabaya, Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono, pada Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus, 30 Mei 2008. Anggota SCS berasal dari berbagai paroki di Surabaya, antara lain Paroki Katedral Surabaya, St Yusup Karang Pilang, dan Salib Suci Sidoarjo. Umur anggotanya pun bervariasi, berkisar antara 18 sampai 66 tahun. Kelompok ini berkumpul seminggu sekali untuk belajar bersama tentang tradisi musik Gregorian dan liturgi Gereja. Di samping itu, atas prakarsa Romo Eko Budi Susilo Pr, SCS juga mendaraskan Ibadat Penutup (Completorium) di Katedral setiap hari Minggu pukul 21.00-21.30.

Peminat liturgi dan tradisi Katolik asal Surabaya, Albert Wibisono mengatakan, baik Misa dengan tata cara biasa maupun yang tidak biasa, baik dan sah menurut Takhta Suci. Namun, yang hendaknya diperhatikan adalah peningkatan kualitas dan keterampilan imam, pelayan katekese umat, dan syarat untuk bisa merayakan Ekaristi.

Albert menambahkan, partisipasi aktif yang diamanatkan dalam Konsili Vatikan II tidaklah berarti bahwa umat harus ikut serta mengucapkan semua doa dan/atau menyanyikan semua lagu dalam Misa. Ada doa-doa yang diucapkan hanya oleh imam, dan ada aklamasi-aklamasi yang merupakan bagian umat, misalnya aklamasi “Amin”. Ada saatnya lektor membaca Sabda Tuhan dan umat mendengarkan (bukan ikut membaca teks). Hal nyanyian, ada bagian-bagian yang dinyanyikan koor dan ada pula bagian yang dinyanyikan umat. Sikap diam dan khusyuk mendengarkan serta menghayati doa, bacaan Kitab Suci serta nyanyian yang dibawakan koor pun merupakan bentuk partisipasi aktif dalam Misa. Mendengarkan mungkin menjadi bentuk partisipasi aktif yang tersulit. Akhirnya, partisipasi batiniah lebih penting daripada partisipasi lahiriah.

Tanggapan hirarki

Sekretaris Eksekutif Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia (Komlit KWI), Pastor Bosco da Cunha OCarm, mengatakan, Paus Benediktus XVI telah menerbitkan Surat Apostolik Summorum Pontificum, melanjutkan apa yang sudah direstui oleh para paus pendahulunya. Pada 1991 Paus Yohanes Paulus II membentuk Komisi Kepausan Ecclesia Dei, sebuah komisi khusus untuk mengurusi dan menangani realisasi Misa Tridentin. Segala hal atau persoalan yang terkait dengan pelaksanaan Misa Tridentin dari seluruh Gereja universal ditampung dan diolah dalam komisi ini.

Menurut Romo Bosco, Sri Paus melihat, masih ada kelompok-kelompok yang ingin bernostalgia dan merasa cocok hatinya dengan gaya liturgi lama (lagu-lagu Latin, penggunaan bahasa Latin, perayaan dengan imam yang terkesan sangat sakral). Mereka juga harus tetap dihormati dan dilayani.

Komlit KWI, demikian Romo Bosco, tidak mengurusi persoalan-persoalan tentang tridentin. Persoalan tersebut langsung diserahkan pada kewenangan para uskup diosesan di keuskupan masing-masing. Dalam Surat Apostolik juga tidak dijelaskan bahwa KWI harus mendukung. Namun, ada poin yang mengatakan bahwa uskup hendaknya memberikan pelayanan. “Seorang uskup yang ingin memenuhi permintaan dari umat, tetapi karena berbagai alasan tidak dapat memenuhinya, dapat langsung melaporkan kepada Komisi Ecclesia Dei di Roma yang akan memberikan bimbingan dan pemberitahuan lebih lanjut,” jelasnya.

Sedangkan pakar sejarah Gereja dari Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Prof Dr A. Eddy Kristiyanto OFM mengatakan bahwa tujuan Misa Tridentin adalah ingin mengakomodasi kelompok Santo Pius X yang dulu memisahkan diri atau dipisahkan dari Gereja Katolik Roma, karena Uskup Agung Marcel Lefebvre tidak mau menandatangani Konsili Vatikan II. Maka, Paus Benediktus XVI berusaha merangkul kembali. “Sri Paus ini sangat cerdas, mengarah ke suci, tapi juga sangat konservatif,” kata imam Fransiskan ini. Dalam motu proprio, yakni inisiatif pribadi Bendiktus XVI, dijelaskan bahwa Misa Tridentin tidak dianjurkan, tetapi apabila ada yang berkeinginan menyelenggarakan, kebijakannya diserahkan masing-masing keuskupan. Problem yang muncul, demikian Romo Eddy, adalah umat tidak menguasai bahasa Latin. Tetapi, jika ada orang yang merasa lebih tenang dengan misa ini, haruslah dilayani hanya sesekali saja. Jadi, kendalanya bukan pada perayaannya, melainkan pada bahasanya.

Di tempat terpisah, seorang imam di Malang mengatakan, Misa Tridentin itu mengacaukan liturgi. Maksudnya, umat sudah terbiasa dengan pembaruan liturgi Konsili Vatikan II, dengan segala pengetahuan liturgi yang begitu luas, tetapi justru diajak kembali ke belakang lagi. Seolah-olah Gereja mengalami kemunduran dan kembali ke zaman pra Konsili Vatikan II.

Sumber :
http://www.hidupkatolik.com/2011/11/24/fenomena-misa-tridentin

baca selanjutnya...

Kamis, 22 Oktober 2015

Misa Latin adalah kekayaan Gereja Katolik

Ketika Paus Fransiskus pertama kali muncul di depan kerumunan massa di Lapangan Santo Petrus tanpa jubah merah pendek sepanjang siku yang menutupi bahu atau mozzetta, sejumlah umat Katolik merasa khawatir keputusan Paus ini melupakan pakaian resmi kepausan akan menghilangan tradisi.

Secara khusus, mereka merasa khawatir dengan Misa Latin Tradisional atau Misa Tridentin, yang kini berada di tangan kepausannya yang tampaknya mengabaikan kemegahan.

Tapi lebih dari setahun setelah ia memimpin Gereja Katolik, Misa Tridentin tampaknya tetap hidup dan berjalan baik.

Beberapa dekade setelah Gereja Katolik tidak merayakan Misa dalam bahasa Latin, pertumbuhan menurun, dalam banyak kasus dimana orang muda tidak berminat.

Pada 5 Agustus empat pria ditahbiskan menjadi imam di Oratorium St. Fransikus de Sales, Gereja St. Louis dikenal karena mempraktekkan liturgi Latin ini.

Komunitas religius itu didirikan di Afrika tahun 1990, secara teratur merayakan gaya Misa tradisional tersebut. Pentahbisan terakhir di AS untuk lembaga itu tahun 2007 dan dua diakon ditahbiskan.

Tahun ini kelompok itu menahbiskan sejumlah orang. Empat orang ditahbiskan awal tahun ini di Italia, dimana lembaga ini berbasis. Mantan Uskup Agung St. Louis Mgr Raymond Burke, salah satu pendukung ritus Latin di kalangan para uskup AS, datang ke Roma untuk memimpin pentahbisan itu.

Mary Kraychy dari Koalisi Mendukung Ecclesia Dei, sebuah organisasi nirlaba yang berbasis di Glenview, Illinois., yang mempromosikan Misa Latin, mengatakan dia melihat kelambanan, tapi stabil dalam praktek, dengan lebih dari 400 gereja yang menawarkan liturgi ini.

Organisasi itu menjual buku Misa yang menampilkan teks Misa berbahasa Latin bersama terjemahan bahasa Inggris.

Tahun 1969, Paus Paulus VI menyatakan Gereja harus mengadakan Misa dalam bahasa asli umat, yang menyebabkan Misa Tridentin itu digantikan.

Pada 5 Agustus, Francis Altiere, 32, dan tiga diakon lainnya berlutut di depan Mgr Burke, memegang lilin di tangan kanan mereka. Mereka bersujud di depan altar sementara Mgr Burke berlutut membelakangi umat.

Koor menyanyikan Litani Orang Kudus, berdoa kepada orang-orang kudus, martir dan malaikat untuk perlindungan dan bantuan Tuhan. Pastor Altiere berasal dari Pennsylvania dengan gelar dari Harvard University.

Dia mengatakan keputusannya menjadi seorang imam karena ingin merayakan Misa Latin tradisional seperti yang ia sering ikut di sebuah gereja di pusat kota Boston.

“Dalam Misa ini saya benar-benar memahami imamat untuk pertama kalinya,” kata Pastor Altiere.

“Alasan utama adalah untuk keindahan Gereja kita dan upacara liturgi adalah untuk memuliakan Allah, tetapi juga sebagai sarana ampuh evangelisasi.”

Mereka yang menghadiri Misa itu di Oratorium St. Fransiskus de Sales mengatakan iman mereka diteguhkan dengan liturgi itu dan dengan rasa solidaritas yang dialami oleh orang-orang yang menghadiri Misa itu.

“Semua orang di sini percaya apa yang mereka lakukan adalah benar, nyata,” kata Tom Leith, 55, seorang umat dari St. Louis.

“Anda berada di kalangan orang-orang yang percaya apa yang diajarkan Gereja.”

St. Fransiskus de Sales yang taat menyampaikan sebuah kombinasi dan visual yang mengizinkan bahasa isyarat bagi mereka yang sedikit mengetahui bahasa Latin untuk mengikuti Misa.

Jim Kahre memimpin 40 menit bersama sembilan anaknya dari High Ridge untuk mengunjungi gereja setiap hari Minggu.

“Saya hampir merinding,” kata Kahre, yang bekerja di bidang IT di sebuah perusahaan akuntansi. “Saya belum pernah melihat sesuatu seperti itu sampai saya datang ke sini.”

Tahun 1980-an, setelah beralih ke bahasa-bahasa lokal, Paus Yohanes Paulus II memperbolehkan para imam untuk merayakan Misa Latin tradisional ini, tapi hanya dengan persetujuan dari uskup lokal.

Namun, hingga tahun 2007, Paus Benediktus XVI telah mempermudahkan pembatasan itu, memberikan kewenangan kepada paroki-paroki untuk merayakan Misa Latin tanpa memperoleh izin dari uskup mereka.

Tahun 2011, umat Katolik berbahasa Inggris diperkenalkan ke terjemahan baru dari Misa itu yang dikatakan lebih sesuai dengan Misa Latin yang aslinya.

Pastor Altiere mengatakan ia akan menggunakan hadiah barunya sebagai seorang imam tidak hanya untuk merayakan Misa dalam bahasa Latin, tetapi juga menyelamatkan jiwa-jiwa.

“Ada sebuah pepatah bahwa imam tidak masuk surga sendiri,” kata Pastor Altiere. “Maksud saya, seorang imam hanya memimpin agar banyak jiwa bisa ke surga.”

Sumber: UCA News

baca selanjutnya...

Sabtu, 17 Oktober 2015

Pengalaman Perayaan Misa Latin Di Pontianak

Sejak pembaharuan Liturgi Romawi yang dipormulgasikan oleh Beato Paus Paulus VI ( Selanjutnya dibaca “Forma Ordinaria/FO”), Liturgi Gereja Katolik ritus latin menjadi lebih sederhana ( dan tetap Agung) dibanding Liturgi Misa 1962 (selanjutnya dibaca “Forma Extraordinaria/FE”). Misa Forma Ordinaria menjadi lazim dirayakan di paroki – paroki Gereja, serta Misa ini mengizinkan penggunaan bahasa vernakular (bahasa lokal) di setiap doa ( Tentu mendapatkan pengesahan dari takha suci Vatikan). Misa Forma Extraordinaria pada kala itu diizinkan untuk tetap dirayakan di daerah – daerah yang memungkinkan saja. Atas kemurahan hati Paus Sto. Yohanes Paulus II, para Uskup diminta bermurah hati kepada umat beriman yang menginginkan perayaan Misa dalam Forma Extraordinaria.

Pada tanggal 7 Juli 2007, Paus Benediktus XVI (Sekarang Bapa Benediktus) atas inisiatif pribadi mengeluarkan dekrit yang bernama “Summorum Pontificum”. Dekrit ini berisikan kebebasan kepada para Imam untuk mengurbankan Misa suci Forma Extraordinaria, bahkan para Uskup dikeuskupan masing – masing diminta untuk memperkenalkan Misa FE ini kepada umat beriman.

Atas dasar keinginan suci dari Bapa Benediktus, Kaum muda – mudi Katolik (Komunitas Liturgia Latina Sto. Yohanes XXIII) di Keuskupan Agung Pontianak berusaha mewujudkannya.

Proses merealisasi Misa Forma Extraordinaria ini tentu banyak rintangan, baik dalam hal mencari Imam yang bersedia memimpin Misa FE ini, maupun sistem komunikasi dan perancangan teknis dalam komunitas itu sendiri. pada pertengahan tahun 2014, Y.M Hieronymus Herculanus Bumbun (Sewaktu masih Uskup Agung Pontianak) memberikan restu / izin perayaan Misa FE ini. Ia pun menunjuk seorang Imam dan Gereja yang menjadi Selebran dan tempat diselenggarakan Misa. Beberapa bulan kemudian, Y.M Agustinus Agus menjadi Uskup Agung Pontianak, izin / restu pun diberikan seraya ketentuan – ketentuan harus diperhatikan. Seiring perjalanan, Misa FE ini belum terealisasi hingga akhir bulan Januari 2015 karena kesibukan dari Imam selebran itu sendiri.

Pada awal bulan februari 2015, atas dorongan dan pertolongan Tuhan, anggota dari Komunitas penyelenggara Misa FE ini segera menemui Y.M Hieronymus Herculanus Bumbun ( Uskup Agung Emeritus Pontianak) di sakristi (setelah Misa kudus) untuk meminta kesediaan menjadi Selebran Misa. singkat cerita, Y.M Hieronymus menyanggupi tawaran menjadi selebran Misa. Di bulan februari, anggota – anggota menjadi “sibuk” dengan berbagai persiapan dan tentu dengan suasana hati yang gembira karena dapat mewujudkan keinginan Bapa Benediktus yang terkasih.

Pada tanggal 1 maret 2015 (Minggu Prapaskah II) pukul 08.30 WIB, menjadi sejarah dalam Keuskupan Agung Pontianak, MISA FORMA EXTRAORDINARIA dikurbankan di kapel biara SFIC Sto. Antonius. Misa Kudus berlangsung khidmat dan dihadiri kurang lebih 105 umat beriman, walaupun ada kebingungan diantara umat beriman baik dalam tata liturgi yang sedikit berbeda dengan Misa Forma Ordinaria, maupun pelafalan bahasa latin.

Misa pun usai, Selebran dan Akolit foto bersama untuk menyimpan kenangan, tak lupa juga bersama Anggota Koor Alyans (Mahasiswa / i Keuskupan Ketapang).

Dalam Sakristi, Akolit membereskan busana liturgi. Seorang suster yang ikut Misa FE ini masuk dan melihat. Percakapan hangat antara suster dan akolit mengenai Misa ini, suster pun meminta kata kunci untuk mencari video Misa FE ini di youtube.

Semua barang untuk keperluan Misa Kudus pun sudah dibereskan. anggota komunitas Latina duduk di ruang santai. Suster Yohana, SFIC yang duduk dikursi roda tersenyum seraya bercanda dengan seorang Akolit, “Kamu jadi Uskup aja ya? hehe”. Bersama dua suster sepuh, pembicaraan santai membuat suasana menjadi hangat, mereka menceritakan bagaimana masa lalu Misa ini dirayakan, kotbah dalam banyak bahasa (latin, Belanda, Indonesia, Mandarin, dll). Para suster pun mengungkapkan perasaannya, ada rasa khidmat menggunakan bahasa latin dalam Misa, serta Imam yang membelakangi umat (sebenarnya Imam dan Umat bersama – sama menghadap Allah). Suster yang satu pun mengusulkan agar Misa ini dirayakan pada hari – hari Raya dan juga dirayakan secara serempak di paroki – paroki, karena keagungan Misa dalam penggunaan bahasa latin ini. “Para Pastor hendaknya bersedia merayakan Misa ini demi kebutuhan umat”, ungkapnya.

Hari itu menjadi hari yang sangat indah, para suster pun menyambut Misa ini dengan gembira, dan umat pun tidak sabar untuk menghadiri Misa FE yang akan datang.




Sumber:
http://spesalvifactisumus.wordpress.com/

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP