P.S. GITA BAKTI HERKULANUS adalah Paduan Suara Paroki Santo Herkulanus. P.S. GITA BAKTI HERKULANUS berlatih tiap Minggu sore. --- P.S. IUVENISH CHORUS adalah Paduan Suara OMK Paroki Santo Herkulanus. --- P.S. SERAFIM adalah Paduan Suara Karyawan Yayasan Yohanes Paulus Depok. Selamat bergabung.

Minggu, 30 Agustus 2015

Menanggapi Sabda dengan Mazmur

Seorang Pemazmur sering bertanya: ”Bolehkah hanya dua ayat Mazmur Tanggapan yang dinyanyikan?” Apa latar belakang pertanyaan itu? Menyanyikan seluruh ayat yang tersedia mungkin dianggap bisa menyita cukup banyak waktu. Melalui pertanyaan itu mau dicari kepastian tentang norma liturgis yang mengaturnya.

Sebenarnya tidak ada aturan khusus tentang itu. Mengenai ”ayat mazmur” hanya disebutkan satu kali dalam PUMR 61: ”Pemazmur melagukan ayat-ayat mazmur dari mimbar atau tempat lain yang cocok.” Tidak ada tentang berapa jumlah ayat yang harus dinyanyikan atau boleh “didiskon”.

Ketiadaan aturan tentang itu bisa dimaknai bahwa tidak perlu ada pengurangan ayat-ayat, karena untuk menanggapi Sabda Allah janganlah memperhitungkan kerugian kehilangan waktu. Jadi, berapa pun jumlah ayat yang tersedia sebaiknya diungkapkan semuanya dengan didorong oleh semangat sukacita karena telah boleh merasakan kembali kehadiran Allah yang bersabda. Sesungguhnya, ketika ayat-ayat itu dinyanyikan, ada peristiwa Ilahi sedang terjadi.

Sabda menanggapi Sabda

Sesudah Sabda Allah dimaklumkan, umat pun menanggapinya. Bacaan Pertama diikuti Mazmur Tanggapan. Begitulah yang biasa terjadi. Namun, sebenarnya tanggapan umat sudah muncul sebelum Mazmur Tanggapan itu sendiri dilantunkan. Ternyata, ada beberapa bentuk tanggapan umat.

Tanggapan pertama adalah sikap umat yang mendengarkan Sabda. Umat diam, membuka mata, budi, dan hati untuk menangkap kehadiran Allah yang berfirman. Tanggapan kedua adalah sejenak menciptakan keheningan bersama setelah Bacaan Pertama berlangsung sebagai kesempatan untuk merenung. Kedua tanggapan itu bersifat non-verbal.

Mazmur Tanggapan adalah bentuk ketiga yang bersifat verbal. Bagian ini merupakan unsur pokok dalam Liturgi Sabda dan memiliki makna liturgis serta pastoral yang penting karena menopang permenungan atas Sabda Allah (PUMR 61). Melalui Mazmur Tanggapan, kita diajak untuk merasakan Sang Sabda yang kembali menjelma menjadi manusia dalam hati kita dan membimbing kita untuk memuliakan Allah Bapa.

Kita menanggapi Sabda Allah dengan menggunakan Sabda Allah juga, yang telah mengisi batin kita. Suatu peristiwa timbal balik terjadi dalam Liturgi Sabda. Sesudah Allah berbicara kepada kita, kita pun ganti berbicara kepada Allah melalui Mazmur Tanggapan. Mazmur ini bukan hanya berkaitan dengan Sabda Allah, tapi juga adalah Sabda Allah.

Sebaiknya dilagukan

Secara historis tercatat bahwa bangsa Israel, umat terpilih, menanggapi karya-karya agung Allah dengan nyanyian yang bersumber dari Kitab Suci. Mazmur-mazmur telah dibuat dan kemudian didoakan sepanjang sejarah umat Israel. Semasa hidup-Nya, Yesus juga menaati tradisi bangsa-Nya. Kata-kata yang dirangkai dalam mazmur digenapi dalam diri Yesus ketika Ia membawakannya. Di antara ayat demi ayat dan mazmur demi mazmur terdapat misteri tersembunyi, namun tersingkap dalam diri Yesus yang sedang berdoa kepada Bapa-Nya.

Tradisi liturgis juga mewariskan cara menanggapi pemakluman dan aktualisasi karya-karya agung Allah itu dengan melagukan Mazmur Tanggapan. Cara ini merupakan kebiasaan Gereja dalam beribadat yang terawat hingga kini. Sesuai dengan hakikat suatu mazmur, maka sebaiknya Mazmur Tanggapan dilagukan, bukan sekadar dibacakan. Sekurang-kurangnya bagian ulangan yang dibawakan oleh umat, untuk menambah agung aksi pemuliaan kita bagi Allah.

Teks Mazmur Tanggapan sudah diseleksi dan disesuaikan dengan bacaan yang dimaklumkan. Satu tim ahli dari pelbagai disiplin ilmu telah menyusunnya dalam buku Lectionarium. Karena fungsinya untuk menanggapi Sabda, maka bagian ini semestinya tak diganti dengan lagu apa saja tentang Sabda, atau malah sembarang lagu antarbacaan yang tak selaras dengan isi bacaan yang baru saja diwartakan.

Christophorus H. Suryanugraha OSC
Ketua Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia
- See more at: http://www.hidupkatolik.com/2012/02/23/menanggapi-sabda-dengan-mazmur

baca selanjutnya...

Kamis, 27 Agustus 2015

Mencari dan Menyanyikan Mazmur Tanggapan pada Hari Biasa

"Tidak diizinkan mengganti bacaan dan mazmur tanggapan, yang berisi Sabda Allah, dengan teks-teks lain yang bukan dari Alkitab." Demikian kutipan dari Pedoman Umum Misale Romawi artikel 57. Umat yang terbiasa setia menjalankan liturgi sesuai norma-norma bakunya, terkadang mengalami kesulitan ketika ingin melagukan Mazmur Tanggapan pada perayaan Ekaristi yang jatuh pada hari biasa. Bagaimana mencari teks lagunya? Apa ulangannya, dan bagaimana nada ayatnya? Tulisan singkat ini diharapkan dapat membantu para praktisi liturgi agar dapat mencari dan melagukan Mazmur Tanggapan secara layak dan benar.

Pada Misa hari Minggu, biasanya seluruh bagian Mazmur Tanggapan dinyanyikan. Pola responsorial (ulangan-ayat) adalah yang lazim dipakai. Pola ini dapat seluruhnya dibacakan; seluruhnya dinyanyikan; atau sebagian dibaca, sebagian dinyanyikan. Jika ingin dinyanyikan namun tidak ada penyanyi yang cakap, sekurang-kurangnya bagian ulanganlah yang dinyanyikan bersama umat, sedangkan ayat dapat hanya dibaca saja.

Jika ingin seluruh bagian dinyanyikan, buku yang paling tepat dipakai adalah Buku Mazmur Tanggapan dan Alleluya dari Komisi Liturgi KWI. Buku Mazmur Tanggapan dan Alleluya (MTA) memang dikemas untuk Mazmur Tanggapan Misa hari Minggu dan hari raya. Namun buku ini juga bisa dimanfaatkan untuk Misa yang jatuh pada hari biasa.

Perlu diketahui bahwa buku MTA (seperti halnya Puji Syukur) menyediakan tidak hanya daftar isi, tapi juga indeks. Ada 3 macam indeks berkaitan dengan Mazmur Tanggapan:
1. Indeks Tema Mazmur, halaman 468
2. Indeks Mazmur, Kidung dan Madah; halaman 472
3. Indeks Ulangan Mazmur, halaman 475

Berikut tahap-tahap untuk mencari nyanyian Mazmur Tanggapan pada hari biasa:
1. Lihat kalender liturgi, catat nomor bab dan ayat Mazmur. Posisi di kalender liturgi ada di antara bacaan pertama dan bacaan Injil.
2. Lihat Indeks Mazmur, Kidung dan Madah dari buku MTA halaman 472.
3. Pada indeks tsb, angka awal yang dicetak tebal menunjukkan nomor bab, nomor berikutnya menunjukkan nomor ayat, dan setelah titik-titik panjang menunjukkan halaman di buku MTA.
4. Sesuaikan nomor bab dan ayat di kalender liturgi dengan yang ada di indeks.
5. Ketemu deh....

Contoh 1:
1. Untuk tanggal 4 November 2013 peringatan St. Carolus Borromeus, menurut kalender liturgi Mazmur Tanggapannya adalah: Mzm. 69:30-31,33-34,36-37;
2. Pada indeks, bila dicari akan ketemu Mazmur 069 (lihat angka dicetak tebal). Di situ ada dua nomor 069, cari yang ayatnya sesuai, maka akan ketemu tulisan 069: 14.17.30-31.33-34.36ab.37; Ul; lh. 33.......422
3. Tulisan yang terakhir itu berarti pada halaman 422 buku MTA ayat mazmur diambil dari ayat 14.17.30-31.33-34.36ab.37; dan ulangan diambil berdasar ayat 33 (ulangan tidak selalu persis sama).
4. Pada halaman 422 tsb akan ketemu Mazmur dangan 4 ayat. Tinggal disesuaikan dengan kalender liturgi ayat mana yang dipakai.
5. Maka untuk tanggal 4 November 2013, jika hendak menyanyikan Mazmur Tanggapan dapat memakai buku MTA halaman 422 ayat 2-4.

Contoh 2:
1. Untuk tanggal 5 November 2013, Mazmur sesuai kalender liturgi adalah: Mzm. 131:1,2,3;
2. Melihat indeks, akan ketemu yang sama persis pada halaman 150.

Contoh 3:
1. Untuk tanggal 31 Oktober 2013, Mazmur sesuai kalender liturgi adalah : Mzm. 109:21-22,26-27,30-31;
2. Setelah dicari di indeks, ternyata tidak ada yang pas.
3. Untuk kasus ini ada 2 cara lain yang bisa dilakukan:
3a. Memakai Indeks Tema buku MTA halaman 468. Dapat dipilih sesuai tema perayaan.
3b. Memakai Mazmur Alternatif sesuai masa liturgi, lihat halaman 200-221.
4. Untuk kedua cara lain di atas, penting memperhatikan tema bacaan pertama, agar sifat Mazmur sebagai tanggapan atas bacaan pertama benar cocok.

Semoga membantu, selamat bermazmur.....

baca selanjutnya...

Rabu, 26 Agustus 2015

Cara Membawakan Mazmur Tanggapan

Ada yang merasa geli ketika pemazmur mengucapkan: ”Mazmur Tanggapan, dengan refrein: … ” Lalu, setiap mengakhiri satu ayat ia memberi aba-aba kepada umat dengan ucapan ”Refrein!” Frasa dan kata itu sebenarnya tak ada dalam buku Lectionarium. Mungkin terpaksa dilakukan agar umat terjaga dan bersiap ikut menanggapi Sabda secara kompak.

Cara itu mengingatkan kita pada petunjuk pelaksanaan saat upacara bendera, misalnya: ”Inspektur upacara memasuki tempat upacara…. Pasukan disiapkan… Mengheningkan cipta mulai…” Petunjuk upacara bendera itu mungkin setara dengan rubrik dalam buku liturgis. Bedanya, dalam perayaan liturgi petunjuk rubrik itu tidak dibacakan.

Cara instruktif itu dapat dianggap mengabaikan kaidah keindahan berliturgi karena mengandalkan kata-kata petunjuk yang tidak diperlukan. Satu contoh lagi untuk virus verbalisme. Ada cara-cara lain yang lebih indah untuk menghidupkan pembawaan Mazmur Tanggapan. PUMR 61 juga sudah menganjurkan bahwa Mazmur Tanggapan hendaknya dilagukan, sekurang-kurangnya bagian ulangan (refrein/antifon) yang dibawakan oleh umat.

Pilihan cara dan tempat

Cara membawakan mempunyai dua arti membacakan atau melagukan. Membawakan Mazmur Tanggapan dengan cara dibacakan biasanya dipilih untuk Misa harian, atau jika tidak ada pemazmur yang bertugas. Peran pemazmur pun diambil alih langsung oleh lektor, yang mestinya lebih tepat oleh petugas lain.

Membacakan saja memang tidak dianjurkan. Jika terpaksa dilakukan, maka perlu penjiwaan yang sesuai dengan isi teks mazmurnya, bukan dibacakan seperti untuk pembacaan Kitab Suci. Jika tidak dilagukan, Mazmur Tanggapan didaras sedemikian rupa sehingga membantu permenungan Sabda Allah.

Melagukan dapat dalam cara sederhana (hanya bagian ulangan yang dinyanyikan) atau cara lengkap (semua dinyanyikan). Inilah cara yang dianjurkan sesuai dengan hakikat suatu mazmur sebagai nyanyian. PUMR 61 memperjelas: ”Umat tetap duduk dan mendengarkan; dan sesuai ketentuan, mereka ambil bagian dengan melagukan ulangan, kecuali jika seluruh mazmur dilagukan sebagai satu nyanyian utuh tanpa ulangan.”

Di mana tempat pemazmur bertugas? Pemazmur melagukan ayat-ayat mazmur dari mimbar atau tempat lain yang cocok. Di mimbar, karena Mazmur Tanggapan masih merupakan unsur Liturgi Sabda. Di tempat lain karena ada beberapa pertimbangan. Misalnya, karena sang pemazmur adalah bagian dari koor atau karena jumlah pemazmur tidak tertampung di mimbar, maka dipilihlah tempat lain yang lebih memadai.

Cara musikal

Cara menyanyikan Mazmur Tanggapan ternyata tidaklah tunggal. Kelima cara berikut ini pada dasarnya pengembangan dari dua cara melagukan yang sudah ada, yakni cara dengan ulangan (responsorial) atau tanpa ulangan (PUMR 61).

Empat cara pertama berkaitan dengan ulangan, yang selalu dilagukan bersama oleh seluruh jemaat.
(1) Pemazmur dan umat: Seorang pemazmur memimpin jemaat dalam menanggapi Sabda. Ia terlebih dulu melagukan bagian ulangan, kemudian umat mengulanginya.
(2) Pemazmur dan umat: Supaya lebih variatif, diperlukan dua pemazmur.
(3) Kor dan umat: Untuk lebih menampilkan kebersamaan maka peran seorang pemazmur digantikan kelompok kor.
(4) Umat dibagi dua kelompok: Terdiri dari kelompok jemaat yang duduk di bagian kanan dan kiri, atau deretan depan dan belakang.

Satu cara lagi tidak memakai ulangan: (5) Umat bersama-sama: Ini cara yang paling menunjukkan partisipasi umat secara penuh. Semua bersama-sama menanggapi Sabda Allah dengan bernyanyi sejak awal hingga akhir.

Cara pertama sudah lazim dilakukan. Keempat cara lainnya boleh dicoba. Marilah kita bawakan Mazmur Tanggapan secara optimal sebagai ungkapan sukacita menyambut Sabda Allah.

Christophorus H. Suryanugraha OSC
Ketua Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia

Dikutip dari:
http://m.hidupkatolik.com/index.php/2012/03/02/cara-membawakan-mazmur-tanggapan

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP