P.S. GITA BAKTI HERKULANUS adalah Paduan Suara Paroki Santo Herkulanus. P.S. GITA BAKTI HERKULANUS berlatih tiap Minggu sore. --- P.S. IUVENISH CHORUS adalah Paduan Suara OMK Paroki Santo Herkulanus. --- P.S. SERAFIM adalah Paduan Suara Karyawan Yayasan Yohanes Paulus Depok. Selamat bergabung.

Selasa, 28 Juli 2015

Menyiapkan Ekaristi Kaum Muda

Oleh: Romo P. Mutiara Andalas, SJ

Salah satu pertanyaan yang sering muncul dalam berbagai kesempatan berbagi pengalaman merayakan Ekaristi Kaum Muda (EKM) adalah langkah-langkah persiapannya. Sangat ideal sebuah paroki yang berniat menyelenggarakan EKM memiliki tim animasi liturgi. Tugas utama tim animasi liturgi adalah mendampingi persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi beserta refleksi penyelenggara EKM. Jika belum memiliki personil yang lengkap untuk sebuah tim animasi, beberapa pribadi yang berhati besar pada orang muda, dan berpengetahuan dalam Kitab Suci, serta melek kesenian, terutama musik, tarian dan drama liturgi, duduk bersama untuk berperan sebagai embrio tim animasi liturgi. Seorang imam di paroki yang memiliki perhatian besar pada katekese iman orang muda perlu mendampingi tim ini.

Perayaan Ekaristi Kaum Muda membutuhkan keberadaan lebih dari sekedar tim animasi liturgi beserta imam sebagai pendamping ideal. Untuk menjamin keberlanjutan penyelenggaraan EKM, tim animasi liturgi perlu komunitas-komunitas pendukung. Idealnya, kebutuhan akan ketersediaan lagu EKM mendorong pembentukan komunitas pencipta lagu. Menyadari bahwa ungkapan iman melampaui bahasa doa dan nyanyian, tim animasi perlu dukungan komunitas-komunitas kesenian, seperti tari dan drama. Penyelenggaraan perayaan Ekaristi Kaum Muda membutuhkan infrastruktur yang kuat. Banyak tim animasi liturgi EKM lemah dalam dukungan infrastruktur. Ketika infrastruktur masih lemah, tim animasi liturgi dapat melibatkan kelompok-kelompok potensial untuk mendukung penyelenggaraan EKM.

Gagasan mendiang Tom Jacobs mengenai Ekaristi sebagai perayaan iman pantas mendapatkan perhatian. Beliau pakar dalam membaca dokumen-dokumen gereja tentang liturgi Ekaristi, dan berpengalaman secara pastoral, terutama dalam melayani Ekaristi di gereja St. Antonius Kotabaru. Perjumpaan langsung penyelenggara Ekaristi dengan beliau dan pembacaan atas tulisannya memberikan inspirasi sangat kaya tentang katekese liturgi melalui perayaan Ekaristi. Beliau mewanti-wanti agar Ekaristi jangan jatuh menjadi upacara atau kewajiban, melainkan perayaan. Para penyelenggara Ekaristi sedapat mungkin menyesuaikan perayaan dengan umat yang hadir. Paroki St. Antonius Kotabaru, misalnya, menyelenggarakan EKM karena menyadari bahwa partisipasi orang muda dalam Ekaristi berbeda dari anak, remaja, dewasa atau lansia.[1]

Dalam rangka pembinaan iman, perayaan liturgi akan lebih mengena jika bacaan, doa, dan nyanyian sedapat mungkin dipilih seusai dengan keperluan, taraf pendidikan, dan kemampuan rohani umat yang hadir…. Karena ada banyak kemungkinan untuk memilih bagian-bagian rumus misa, maka diakon, lektor, penyanyi mazmur, komentator dan paduan suara masing-masing harus tahu sebelum perayaan, bagian yang akan mereka bawakan. Jangan sampai terjadi sesuatu dilakukan tanpa persiapan. Koordinasi yang baik dan penyelenggaraan yang serasi akan sangat menolong umat untuk terlibat dalam Perayaan Ekaristi dan lebih merasakan manfaatnya.[2]

Tim animasi liturgi jangan lepas tangan terhadap persiapan penyelenggara Ekaristi Kaum Muda. Kegiatan penyelenggara menyiapkan EKM meliputi membaca Kitab Suci, menentukan tema, menyusun alur, memilih nyanyian, memilih kesenian liturgis, menyusun teks Ekaristi, dan gladi kotor serta bersih. Penyelenggara yang baru pertama kali menyiapkan EKM seringkali membutuhkan waktu lebih panjang. Untuk memfasilitasinya, tim animasi liturgi dapat mengalokasikan waktu satu minggu untuk masing-masing kegiatan persiapan. Penyelenggara yang telah beberapa kali menyiapkan EKM lebih fleksibel dalam manajemen waktu. Mereka barangkali lebih cepat dalam pembacaan Kitab Suci atau penentuan tema atau pemilihan nyanyian, tetapi lebih lamban dalam penyusunan alur atau doa atau pemilihan kesenian liturgis.

Dinamika Persiapan Penyelenggara EKM

Membaca Kitab Suci
Persiapan perayaan Ekaristi kaum muda mulai dengan membaca dan menafsirkan Kitab Suci. Tujuannya penyelenggara EKM sungguh-sungguh memahami misteri Kristus dan sejarah keselamatan.[3] Mereka meneruskan sejarah Gereja yang berkumpul bersama untuk merayakan perjamuan Tuhan dan untuk membaca “yang tercantum tentang Dia dalam seluruh Kitab suci (Luk 24:27). Pembacaan Kitab Suci penting bagi penyelenggara EKM karena dari Kitab Suci dikutip bacaan-bacaan, yang dibacakan dan dijelaskan dalam homili, serta mazmur-mazmur yang dinyanyikan. Dan karena ilham serta jiwa Kitab sucilah dilambungkan permohonan, doa-doa dan madah-madah Liturgi; dari padanya pula upacara serta lambang-lambang memperoleh maknanya.[4]

Menentukan Tema
Pencarian tema memiliki jangkauan lebih jauh dari menggaulkan pesan Kitab Suci kepada orang muda. Jika pemahamannya terbatas menggaulkan pesan KS kepada mereka, penyelenggara EKM baru menggarap kemasan, belum isi. Dalam bahasa orang muda, teks EKM gaul pada sampul, tetapi jadul pada halaman-halaman isi. Sebuah tema EKM yang baik merasuki sekaligus menggerakkan seluruh bagian perayaan Ekaristi. Penyelenggara EKM mendialogkan secara mendalam teks Kitab Suci dengan konteks kehidupan orang muda berikut problematikanya untuk dapat merumuskan tema. Homili merupakan saat istimewa bagi imam dalam perayaan Ekaristi untuk mengudar tema. Imam pada satu sisi “menghubungkan bacaan-bacaan dengan Doa Syukur Agung dan pada sisi yang lain “membuat hubungan dengan kenyataan hidup sehari-hari”.[5]

Menyusun Alur
Isu besar dalam perayaan Ekaristi Kaum Muda adalah durasi penyelenggaraan. Kemampuan orang muda untuk berpartisipasi penuh dalam doa bersama terbatas. Mereka perlu menyeimbangkan kemampuan psikologis orang muda untuk berdoa bersama dan tujuan Ekaristi sebagai kebaktian kepada Allah. Mengulur-ulur waktu mudah sekali memerosokkan perayaan Ekaristi menjadi upacara yang bertele-tele.[6] Untuk mendamaikan kemampuan psikologis orang muda dan tujuan Ekaristi ini, penyelenggara menyusun alur berikut run down perayaan EKM. Untuk menjamin keharmonisan antarbagian Ekaristi, tim animasi liturgi mendampingi penyelenggara EKM dalam gladi kotor dan bersih. Tim animasi liturgi merekomendasikan beberapa usulan kepada penyelenggara EKM untuk penyempurnaan alur.

Menyusun Doa
Dalam doa, orang muda menghadap Allah. Alih-alih menghadap Allah, doa yang kurang baik justru melarikan orang muda dari kenyataan hidup.[7] Orang muda memulai doa dengan pengakuan iman akan Allah sebagai Allah. Dalam doa, mereka mengalami Allah sebagai Pribadi yang dekat.[8] Sebagaimana tuturan pemazmur, “dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu keatasku” (Mzm 139, 5). Penyelenggara EKM perlu menghindarkan diri dari menyusun rumusan doa yang formalistik. Kandungan doa berangkat dari arti Allah bagi seseorang. Ada suatu hubungan timbal balik antara doa dan pengalaman hidup. Doa tidak pernah menjadi real, kalau Tuhan tidak dialami dalam hidup yang real.[9]

Memilih Nyanyian
Penyelenggara Ekaristi Kaum Muda seyogyanya memilih lagu-lagu liturgi sederhana sehingga seluruh umat tanpa kesulitan menyanyikannya. Baik mengingat bahwa Ekaristi merupakan perayaan umat. Yang menyanyi dalam perayaan EKM adalah umat, sebagian besar orang muda, bukan paduan suara. Paduan suara memiliki tempat istimewa dalam menggerakkan dan memelopori umat dalam menyanyi. Kehadiran paduan suara yang membawakan lagu-lagu indah, bahkan bernilai kesenian tinggi, tetapi hanya mereka yang dapat menyanyikannya, menghalangi partisipasi penuh umat dalam Ekaristi.[10] Paduan suara juga perlu mengintegrasikan lagu-lagu pilihannya secara harmonis ke dalam seluruh perayaan Ekaristi. Jangan sampai nyanyian menjadi suatu pertunjukan tersendiri yang terlepas dari perayaan Ekaristi. [11]

Memilih Kesenian Liturgis
Desain banyak arsitektur gereja lama, bahkan baru, terbatas untuk ruang ekspresi iman dalam bentuk kesenian liturgis. Karena keterbatasan arsitektur gereja, sebagian penyelenggara kemudian meminimalkan, bahkan meniadakan pembacaan puisi, tarian, dan drama dari perayaan Ekaristi Kaum Muda. Menyadari pentingnya ruang ekspresi iman dalam bentuk-bentuk kesenian liturgis, sebagian gereja berinisiatif untuk merekayasa ruangan sehingga orang muda menjadi lebih mungkin mengekspresikan imannya secara penuh. Sekitar altar seringkali menjadi ruang yang mungkin untuk ekspresi iman dalam bentuk kesenian liturgis. Orang muda, yang berkomitmen menjaga kesakralan ruangan di sekitar altar, hendaknya mendapatkan izin dari imam paroki untuk mengekspresikan imannya.

Teks Ekaristi Kaum Muda
Memasukkan materi-materi tertentu dalam, apalagi mengeluarkannya dari, teks Ekaristi Kaum Muda perlu mempertimbangkan efeknya terhadap partisipasi umat. Teks merupakan bantuan bagi mereka untuk partisipasi lebih penuh dalam Ekaristi. Keterbatasan biaya memaksa sebagian penyelenggara mengeluarkan lagu-lagu dari teks Ekaristi. Peniadaan ini sangat merugikan umat karena resikonya mereka lebih pasif dalam perayaan Ekaristi dan terbatas menonton paduan suara. Jika paroki mampu menambah fasilitas pendukung di dalam gereja, penyelenggara dapat menayangkan teks dalam powerpoint yang ramah secara ekologis untuk meningkatkan partisipasi umat dalam Ekaristi. Jika paroki belum mampu menyediakannya, penyelenggara perlu mengatasi kesulitan ini dengan sesedikit mungkin mengorbankan partisipasi umat.

[1] Tom Jacobs, SJ., Misteri Perayaan Ekaristi: Umat Bertanya, Tom Jacobs Menjawab (Yogyakarta, YK: Kanisius, 1996), 139.
[2] General Instruction of the Roman Missal No. 31.
[3] Bdk. SC No. 16.
[4] SC No. 24.
[5] Tom Jacobs, SJ., Misteri Perayaan Ekaristi: Umat Bertanya, Tom Jacobs Menjawab, 64.
[6] Bdk. Tom Jacobs, SJ., 146.
[7] Tom Jacobs, SJ., Teologi Doa (Yogyakarta, YK: Kanisius, ), 12.
[8] Tom Jacobs, SJ., Teologi Doa, 13.
[9] Tom Jacobs, SJ., Paham Allah dalam Filsafat, Agama-agama dan Teologi (Yogyakarta, YK: Kanisius, 2002), 238.
[10] Bdk. Tom Jacobs, SJ., Misteri Perayaan Ekaristi, 164-5.
[11] Bdk. Tom Jacobs, SJ., 174.

Romo P. Mutiara Andalas, SJ
Doktor teologi lulusan Jesuit School of Theology di Santa Clara, Berkeley, Amerika Serikat. Saat ini menjadi pengajar Teologi Sosial di USD dan pengajar Pendidikan Agama untuk Kelas Internasional di UAJY.

dikutip dari:
http://www.sesawi.net/2015/07/02/menyiapkan-ekaristi-kaum-muda/

baca selanjutnya...

Jumat, 24 Juli 2015

Orang Muda Katolik (OMK) dan Liturgi

Dalam praktek, banyak kali muncul masalah pada relasi antara OMK dan liturgi (perayaan iman, ibadat). Di antara liturgi dan OMK seolah ada hubungan ”enggan tapi rindu”. Di balik tema “liturgi dan orang muda”, masih bercokol prasangka laten baik terhadap Orang Muda Katolik (OMK), maupun terhadap Liturgi Gereja Katolik Roma. OMK seolah-olah suka hura-hura, semaunya sendiri, tidak bisa diatur dalam berliturgi. Sebaliknya, liturgi sering dipandang sebagai aturan sakral dan baku, seakan-akan jauh dari gelora kerinduan orang muda. Terhadap OMK, Tim Liturgi Paroki biasanya mengenakan frasa ”OMK yang pragmatis, maunya serba lain”. Seakan-akan OMK diperlawankan dengan liturgi yang tak memberi ruang kebebasan ungkapan iman. Dari pihak OMK, ada pula prasangka, bahwa liturgi itu serba kaku.

Prasangka ini bisa dipahami, karena sifat umum orang muda yang masih dalam masa pertumbuhan yang pesat. Mereka sedang berkembang dalam dimensi psikologis, intelektual, seksual-hormonal, emosi, peran sosial dan iman. OMK memang sedang mengalami transformasi menuju kepribadian yang integral. Rentang masa muda yang panjang (usia 13-35 th) adalah masa distingtif, saat mencari, mempertanyakan, belajar dan mengambil keputusan. Kita yang pernah menjalani masa muda tentu merasakan bahwa saat itu merupakan saat yang sukar, menantang sekaligus menggairahkan karena penemuan-penemuan baru. Sering kali kita ingin sesuatu yang ”lain dari pada yang lain” pada masa muda. Sedangkan di pihak lain, Liturgi Gereja Katolik Roma, sudah berkembang dalam 20 abad dan sering dipandang sebagai peraturan yang kaku alih-alih sebagai perayaan yang membebaskan. Padahal, potret berliturgi oleh OMK tak selamanya demikian.

Prasangka dan kecurigaan yang digeneralisasi begitu saja terhadap OMK itu tentu tidak akan memecahkan persoalan yang sering kali muncul dalam praktek penghayatan OMK terhadap liturgi. Tidak bijaksana, generalisasi mengenai OMK yang ”pragmatis dan maunya serba lain” itu. Liturgi Gereja pun tidak sepantasnya diperlawankan dengan gejolak dan selera orang muda. Kenyataannya, bahwa banyak orang terpanggil menjadi kudus pada masa muda, dan panggilan kekudusan itu banyak yang bermula dari penghayatan liturgi. Kita pun tahu, Ekaristi Kaum Muda (EKM) baik yang diselenggarakan oleh paroki, maupun oleh Panitia World Youth Day yang mendatangkan Sri Paus sebagai pemimpin liturgi, selalu dipenuhi OMK dengan kerinduan mendalam. Bahkan, kelompok misa bahasa Latin yang terkesan ”penuh aturan ketat” ada yang digerakkan oleh orang muda.

Memerlukan Dukungan

Seperti pada umumnya orang Katolik Indonesia, tua maupun muda, penghayatan OMK akan liturgi sebenarnya tergantung pada pengetahuan dan pengalaman mereka akan liturgi itu sendiri. Bahwa praktek liturgi OMK kadang-kadang membuat para penanggungjawab liturgi mengerutkan kening, bagi saya lumrah saja dalam konteks pembelajaran. Gelegak kreativitas masa muda sekaligus tingkat pengetahuan dan pengalaman OMK akan liturgi haruslah bisa dipahami dan didukung. Tak usahlah daya kreatif mereka dalam ber-liturgi dihakimi dengan sewenang-wenang seperti yang sering terdengar dari keluhan mereka. Gara-gara maunya kreatif, mereka ”dikecam secara liturgis”.

Sepanjang pengalaman para pendamping, tak ada OMK yang menjadi buruk karena mau kreatif dalam merencanakan dan mengolah liturgi. Justeru sebaliknya, para aktivis kelompok-kelompok OMK yang mau proaktif , mau belajar, mau secara jujur mengusulkan berbagai kreasi dalam liturgi, dan karenanya berani mencari dan melakukan yang benar, berani mengakui kesalahan bila terjadi dan berani memperbaikinya) terbukti menjadi aktivis dengan penghayatan liturgi yang nyata dalam perilaku. Lagipula, jika OMK membuat kesalahan dalam ber-liturgi, ternyata kesalahan itu tidaklah fatal, normal saja. Kesalahan mereka pun kadang-kadang karena pengaruh kelompok kategorial yang lebih senior. Justeru kelompok-kelompok kategorial yang beranggotakan orang-orang tidak muda lagi lah yang sering bikin kesalahan fatal, dan keras kepala, bukan? Sebaliknya, biasanya dengan taat OMK mau belajar dari kesalahan. Mereka tetap gembira dan kreatif, asalkan pendamping dengan empati mau setia mendampingi, menjelaskan makna simbol dan hakikat liturgi yang kaya makna itu kepada mereka, memetakan posisi kelompok dalam lebensrauung Gereja lokal, dsb. Saya yakin, dalam kerja sama yang baik dengan pendamping itu dapatlah dihindarkan kesalahan-kesalahan fatal yang tidak perlu terjadi. Sebenarnyalah di antara Liturgi dan OMK ada hubungan batin yang saling mendukung. Liturgi menjadi ongoing formation bagi OMK. Sedangkan daya kreativitas dan gelora kemudaan OMK membuat liturgi dirayakan dengan bersemangat. Liturgi tanpa keterlibatan orang muda, merupakan tanda nyata kematian Gereja.

Liturgi Kelompok OMK

Ketika naskah ini diketik (Mei 2008-pen), kantor Youth Desk – FABC di Manila sedang mengolah survei mengenai penghayatan OMK akan Liturgi Ekaristi. Munculnya jajak pendapat untuk OMK mengenai Ekaristi ini didasari praduga bahwa kerinduan OMK akan liturgi berbanding lurus dengan pengetahuan dan pengalaman mereka ber-liturgi. Tema Liturgi Ekaristi menjadi pembahasan dalam Asian Youth Daytahun 2009 di Manila. Mengapa tema ini diagendakan? Saya menduga, di satu sisi ada kecemasan kalau-kalau Liturgi ”ditinggalkan” alias ”tidak laku” lagi di kalangan OMK. Liturgi disangka tidak mampu menjawab kerinduan OMK di tengah arus percepatan globalisasi yang mengasingkan OMK. Di sisi lain ada pula kecemasan kalau-kalau OMK di berbagai kelompok kategorial yang masih mau aktif ber-liturgi mulai ”meninggalkan” kaidah liturgi, alias ”mengikuti maunya sendiri”. Komunitas-Komunitas OMK lebih mementingkan ”rasa kepuasan kelompok” dalam berliturgi dibandingkan ”rasa universal” Gereja. Dua macam kecemasan itu bermuara pada dua pertanyaan atas satu kenyataan liturgi:
1. Bagaimanakah liturgi menjawab kerinduan OMK akan perasaan ditemani oleh ”Yang Ilahi” di tengah arus zaman dan perubahan selera ini?
2. Bagaimanakan OMK menyadari tanggungjawab dan penghayatannya akan liturgi yang bergairah karena setia pada aturan Gereja?

Saya menemukan dua prasyarat atas jawaban pertanyaan di atas setelah mengamati beberapa komunitas OMK. Prasyarat itu adalah:
1. Jika mereka mendapatkan komunitas yang digembalakan dengan semangat berbagi dan mereka dipercaya dalam kegiatan komunitas.
2. Jika ungkapan kemudaan mereka diberi ruang dan waktu yang cukup dalam liturgi komunitas.

Pada beberapa kelompok OMK, liturgi mereka hayati sepenuh hati. Tampaknya mereka ”puas” dan selalu rindu dengan liturgi komunitas mereka. Sebabnya, liturgi tak mereka lepaskan dari kehidupan komunitas kategorial mereka, dan bahwa komunitas memberi ruang dan waktu bagi karakter kemudaan mereka dalam liturgi. Ada ”gembala” (pendamping/ moderator) yang secara tetap mempercayai mereka dalam kegiatan komunitas. Sang pendamping ini (imam dan biarawati/awam) mendampingi liturgi mereka dengan tak bosan mengajarkan prinsip-prinsip liturgi sesuai maksud Gereja. Beberapa kelompok OMK itu adalah: Komunitas Sant’ Egidio (SE), beberapa komunitas Persekutuan Doa Karismatik Katolik (PDKK) muda-mudi, beberapa sel Komunitas Tritunggal Mahakudus (KTM) muda-mudi; beberapa presidium Legio Mariae (LM) muda-mudi, kelompok Imago Dei (ID), dan kelompok Doa Taize (DT). Mereka memiliki kesamaan pengalaman, bahwa perjumpaan dengan Allah dalam doa, teristimewa liturgi merupakan puncak dan sumber spiritualitas dan kegiatan komunitas.

Variasi yang Melegakan

Kelompok-Kelompok OMK itu biasa berkumpul untuk berdoa secara rutin. Pertemuan doa mereka mengikuti bukanlah liturgi karena dan karenanya memiliki variasinya masing-masing. Dalam hal ini Tata Perayaan Sabda atau Ibadat Sabda atau Doa kelompok kategorial di luar Ekaristi, adalah kegiatan non liturgis atau para liturgi atau devosi. Perayaan Sabda adalah liturgi bila dilakukan dalam Ibadat Harian dan liturgi sakramen termasuk Ekaristi yang meliputi dua bagian utama: liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Ibadat Sabda di luar liturgi atau para liturgi dan devosi tidak sangat terikat pada kaidah-kaidah liturgi. Dalam hal ini kreativitas orang muda mendapat ruang yang lebih luas dan nyaman. Sebulan atau beberapa bulan sekali mereka mengundang imam untuk merayakan ekaristi. Umumnya, mereka mengikuti aturan liturgi yang baku. KTM dan PDKK secara berkala membuat adorasi sakramen Mahakudus. Sebaiknya Adorasi Sakramen Mahakudus dibuat sebelum atau sesudah Perayaan Ekaristi, atau sebagai unsur dari Ritus Penutup Ekaristi, dan bukan di tengah liturgi Sabda atau di tengah liturgi Ekaristi. Beberapa variasi liturgi, khususnya dalam perayaan ekaristi dan adorasi, tampak paling ekstensif dalam PDKK dan KTM.

Lagu-lagu yang dipakai KTM dan PDKK sebagian besar bercorak mirip pop rohani. Ciri khas liturgi PDKK dan KTM adalah sangat ekspresif. Bernyanyi melambungkan pujian kepada Allah, sambil bertepuk tangan, mengangkat tangan, diiringi musik yang meriah. Di sini dikenal juga pencurahan Roh. Salah satu yang khas pula dalam PDKK dan KTM ialah peran pemimpin doa yang mengantar sesi-sesi lagu, doa dan firman. Dalam perayaan ekaristi, ada kesan bahwa peran imam sebagai pemimpin resmi liturgi Gereja, tenggelam oleh peran pembawa acara yang juga pemimpin doa. Ambil contoh, pengantar tobat yang dibawakan imam, sering kali masih diulang oleh pemimpin doa dengan lebih panjang. Bagaimana hal ini menjadi variasi yang tidak mengganggu? Kuncinya, dialog persiapan antara imam dan pemimpin doa. Menjadi soal jika imam tidak diajak bicara dahulu dan celakanya merasa tidak rela karena dilangkahi dalam memimpin doa. Bisa jadi saat homili menjadi saat pelampiasan ketidakpuasan imam. Namun hal ini jarang sekali terjadi dalam kelompok doa OMK. Pemimpin doa komunitas PDKK dan KTM OMK biasanya bisa bekerja sama dengan baik dengan imam pemimpin ekaristi.

Pertemuan doa DT mendaraskan mazmur dan doa singkat dalam nada sederhana dengan musik lembut dan dekorasi temaram dengan ikon salib Kristus di altar depan. Doa-doa Sant’ Egidio mirip dengan DT. ”Mereka biasa berdoa sebentar di depan ikon Yesus. Ini sungguh doa inklusif. Pemimpinnya tidak menempatkan diri di depan umat (di belakang altar), tetapi di depan umat. Kalau ada imam ingin berbagi atau memberi keterangan Sabda Tuhan, barulah beliau tampil di mimbar. Hal ini wajar karena pertemuan doa mereka ini bukanlah perayaan Ekaristi. Sejauh perlu, doa dilakukan “bersama” di depan ikon Yesus. Doa ini juga merupakan relativisasi di hadirat Tuhan. Orang, setelah seharian bekerja, tidak mensyukuri prestasinya atau mengumpat kegagalan hari itu, melainkan mempersembahkan seluruh perjuangan sepanjang hari kepada Tuhan, entah sukses, entah gagal, entah biasa-biasa saja. Sebetulnya cara pandang seperti ini biasa saja. Hanya saja, doa ini dikemas dalam suatu liturgi yang menyentuh hati: di depan ikon besar Yesus, dalam keredupan cahaya gereja, dengan koor satu suara, sederhana, dengan iringan organ, tapi mengantar pada keagungan Tuhan. Liturgi mereka tidak ada yang istimewa. Pengalaman mereka yang selalu dibawa dalam doa-doa harian dan misa di akhir pekan, itulah yang istimewa.

ID mengungkapkan doa bersama sebagai sarana berkomunikasi dengan Tuhan, untuk mengetahui kehendak-Nya, mendapatkan restu, serta mendapat kekuatan. Dasar kegiatan ID ialah saling menguatkan dalam doa (Gal. 6:2; Ef. 6:18-20). Suasana praise and worship bersifat fun, gembira penuh syukur. Namun jika dilakukan dalam Liturgi (misalnya Ekaristi), apapun bentuk variasi penyesuaian, hendaknya tidak timbul kesan bahwa di tengah liturgi dimasukkkan acara gembira ria yang bersifat profan. Mereka pun mencari rhema untuk minggu itu dan mengungkapkan dalam liturgi.

LM menempatkan devosi kepada Bunda Maria. Namun yang menjadi sentralnya ialah Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus. Semua pusat devosi, ibadat, liturgi adalah Allah: Bapa, Putra dan Roh Kudus. Maka devosi yang khusus kepada Maria itu tidak harus mengaburkan atau menghilangkan sentralnya, tetapi justru semakin mengarahkan para devosan ke sentral: ad Iesum, ad Patrem, ad Spiritum Sanctum, itu sebabnya semua orang yang berdoa rosario atau mempunyai devosi khusus kepada Bunda Maria menyalaminya sebagai Putri Allah Bapa, Bunda Allah Putra dan Mempelai Allah Roh Kudus. Per Mariam ad Iesum. Doa mereka mengikuti tatacara dalam Buku Pegangan LM. Lagu sangat minim, kalaupun ada, lagu penghormatan kepada Bunda Maria selalu dinyanyikan dengan khusuk. Kerendahan hati dan kesederhanaan menjadi pola doa kelompok ini. Doa rosario dan catena legionis diwajibkan dalam devosi mereka. Jika ada misa, doa rosario dan catena legionis wajib didoakan tetapi sebelum liturgi, sebelum Ekaristi, yang berarti di luar liturgi dan bukan di tengah liturgi. Ini sangat tepat, walaupun mungkin ada yang kurang paham lalu mendoakannya dalam liturgi. Tak banyak OMK yang terlibat dalam LM dibanding kelompok lain.

Walaupun berbeda ungkapan, namun nyatalah bahwa perasaan mereka sama-sama terangkat kepada kehadiran Yang Ilahi dan iman dimantapkan. Adanya penyesuaian dan variasi itu dirasakan melegakan OMK dalam menghayati iman akan Allah.

Liturgi yang Tergairahkan oleh Kemudaan

Apakah istimewanya liturgi orang muda? Sebenarnya tatacara liturgi mereka tidak ada bedanya dengan liturgi pada umunya. Yang istimewa adalah apa yang mereka rindukan dan cara ungkapannya. Dalam situasi pertumbuhan menuju masa depan yang tidak serba jelas, di tengah zaman yang hiruk pikuk tidak pasti, liturgi menjadi wahana ungkapan mereka. Apakah liturgi bisa menjawab kerinduan mereka? Alih-alih menunggu liturgi memuaskan mereka, maka banyak kali terjadi, mereka-lah yang berinisiatif menggairahkan liturgi sesuai desakan kuat di dalam dada untuk mengungkapkan kerinduan mereka akan Allah. Sayangnya, para penanggungjawab liturgi kadang-kadang tidak (mau) menanggapi dengan sabar. Akibatnya, gairah OMK sering dikecewakan. Yang diperlukan sekarang adalah penanggungjawab liturgi yang melibatkan OMK dalam tim liturgi, agar perencanaan doa-doa dan lagu, serta variasi lain bisa menjawab kerinduan OMK. Ada aneka warna kelompok doa OMK. Sangat bagus jika mereka dilibatkan oleh para penanggungjawab liturgi di berbagai tingkat (paroki, dekenat/kevikepan, dan keuskupan) untuk menggairahkan liturgi kita. Dengan demikian, tak kan ada lagi kecurigaan dan penilaian sepihak atas OMK seperi pada alinea pertama tulisan ini. Mereka pun merasa tersapa dan pasti belajar liturgi Katolik dengan lebih baik. Ada satu lagi potret ber-liturgi OMK walaupun sangat jarang. Yakni OMK yang tergerakkan oleh liturgi sedemikian rupa, sehingga terinspirasi untuk terjun dalam perjuangan menegakkan perdamaian dan keadilan. Mereka pun perlu dilibatkan dalam perencanaan dan pelaksanaan liturgi agar liturgi benar-benar ”puncak dan sumber” hidup beriman bagi OMK.

OMK dan Musik Liturgi

Bayangkanlah suatu perayaan Liturgi Ekaristi di gedung gereja yang besar dengan ribuan OMK. Bagaimana jika tanpa musik? Nah, musik ialah salah satu kegemaran favorit OMK, sejak era zaman batu hingga era dot com ini. Namun musik Liturgi, memiliki ketentuan liturgis. Apakah OMK masih tertarik dengan musik liturgi? Atau, apakah musik liturgi masih mampu berdaya pikat terhadap OMK?

Perayaan Liturgi tidak melulu pikiran (ratio) . Liturgi selalu meliputi tata gerak dan menyangkut seluruh kekayaan cita-rasa batin yang mendorong setiap orang untuk mengungkapkannya secara lahir. Wujudnya doa, permohonan, pujian, sembah sujud, dan semacamnya. Relasi dengan Allah ialah misteri. Maka apa pun yang sulit dinyatakan dalam kata-kata, diwujudkan dalam seni yaitu musik, syair, nyanyian, lukisan, pahatan yang menembus misteri relasi Allah dan manusia. Itulah jiwa Liturgi, yaitu Allah yang selalu ingin mengkomunikasikan diri kepada manusia dan manusia yang rindu menyambut-Nya. Ungkapan itu diungkapkan oleh manusia dengan segala dimensi kemanusiaannya. Di sinilah kita tempatkan musik dan seni liturgi. Tujuan Musik Liturgi ialah kemuliaan Allah dan pengudusan manusia (Konstitusi tentang Liturgi, / Sacrosanctum Concilium, SC, 112) dan Alkitab memuji lagu-lagu ibadat (Ef 5:19; Kol 3:16)

Yang harus diketahui ialah perbedaan antara Musik / Lagu Liturgi dan Musik / Lagu Rohani Umat. Ketika ungkapan musik diwujudkan dalam perayaan Liturgi, maka kita mengenal istilah Musik/ Nyanyian Liturgi ; sedangkan ketika ungkapan musik diwujudkan dalam perayaan non-liturgi, maka kita mengenal istilah Nyanyian rohani umat (populer). Dalam Musik/Lagu Liturgi Ada 3 kekuatan yang terkandung sesuai hakikat perayaan Liturgi:
1. Dinamisme iman pribadi
2. Dinamisme misteri Allah Bapa melalui Kristus dalam Roh Kudus.
3. Dinamisme komunitas Gerejawi sebagai anggota Tubuh mistik Kristus.

Komponen musik Liturgi adalah ungkapan komunikasi-komunal antara saya – kita – Allah Tritunggal dalam cara yang lebih mesra dan batiniah.

Lagu / Nyanyian Rohani Umat atau Lagu Rohani Populer, tidak mengandung hakikat tiga kekuatan dinamis terebut. Musik rohani merupakan ungkapan iman personal saja, belum eklesial/Gerejawi dan sering juga tidak memperhitungkan dimensi dinamika Allah Tritunggal. Namun SC 118 mengingatkan agar nyanyian rohani umat dikembangkan secara ahli, sehingga kaum beriman dapat bernyanyi dalam kegiatan devosional dan perayaan-perayaan ibadat menurut ketentuan rubrik.

Dalam dokumen “Musicam Sacram” artikel 5 dikatakan sbb:

Sungguh, lewat bentuk ini (musik-pen), doa diungkapkan secara lebih menarik, dan misteri Liturgi, yang sedari hakikatnya bersifat hirarkis dan jemaat, dinyatakan secara lebih jelas. Kesatuan hati dicapai secara lebih mendalam berkat perpaduan suara. Hati lebih mudah dibangkitkan ke arah hal-hal surgawi berkat keindahan upacara kudus…”

Apabila telah dipahami betapa luhurnya misteri yang terjadi selama perayaan Liturgi maka perlulah OMK menyadari betapa luhurnya peran musik dan nyanyian dalam Liturgi sebagai sarana komunikasi dengan yang ilahi dalam kebersamaan.

Sacrosanctum Concilium artikel 112 menyebutkan peran musik sebagai tugas pelayanan untuk mendukung ibadat kepada Allah. Paus Pius X menyebutnya sebagai umile ancella. Paus Pius XI menyebutnya sebagai serva nobilissima. P.Pius XII menyebutnya sebagai sacrae liturgiae quasi administra. Dan Konsili Vatikan II menyebutnya: munus ministeriale in dominico servitio (tugas pelayanan dalam mengabdi Tuhan).

Syarat-syarat Musik Liturgi:
Harus merupakan musik sejati menurut seni musik.
Kata-kata dan nada harus sungguh menghantar manusia kepada Allah, oleh karena itu harus berdasarkan teks Kitab Suci dan Teks Liturgi.
Harus mengungkapkan daya-daya seni dan religiositas dalam dialog dan tanda-tanda simbolik lainnya selama berlangsung perayaan, di mana Allah dimuliakan dan umat beriman dikuduskan.

Maka Musik Liturgi semakin suci, bila semakin erat hubungannya dengan upacara Ibadat, entah dengan mengungkapkan doa-doa secara lebih mengena, entah dengan memupuk kesatuan hati, entah dengan memperkaya upacara suci dengan kemeriahan yang lebih semarak. Gereja menyetujui segala bentuk kesenian yang sejati, yang memiliki sifat-sifat menurut persyaratan Liturgi, dan mengizinkan penggunaannya dalam Ibadat kepada Allah (SC 112).

Ekaristi untuk Orang Muda

Actio Pastoralis, instruksi Kongregasi Ibadat mengenai “Misa untuk kelompok-kelompok khusus” 15 Mei 1969 menyatakan ”Gereja sangat menganjurkan penyelenggaraan Misa untuk berbagai kelompok dalam paroki baik territorial maupun kategorial sebab mempunyai dampak lebih mendalam terhadap penghayatan hidup kristiani, saling mendukung dalam perkembangan hidup rohani dan kesaksian iman”.

Untuk itu diperlukan berbagai penyesuaian, yang dapat dibagi dalam dua kategori:
1. penyesuaian akomodatif
2. penyesuaian inkulturatif

Akomodatif maksudnya penyesuaian dalam hal-hal yang tidak berkaitan dengan budaya setempat misalnya: bacaan, nyanyian, cara berkomunikasi, tata-gerak ritual, dramatisasi, tarian, dll. Misa Orang Muda perlu banyak penyesuaian sesuai dengan jiwa mereka agar sungguh berdaya-guna bagi hidup mereka, namun mengindahkan kaidah liturgi.

Inkulturatif maksudnya unsur-unsur budaya setempat di mana dituntut studi yang mendalam mengenai unsur-unsur yang dapat dimanfaatkan untuk membantu kelompok-kelompok masyarakat tertentu dalam penghayatan iman mereka.

Harapan
Semoga dengan demikian musik dan lagu liturgi menyemarakkan cita rasa batin yang terdalam dari OMK. Musik yang dipakai dalam liturgi haruslah yang menjunjung rasa hormat sembah bakti dalam memuliakan Allah, dan membuat OMK sadar dan aktif dalam liturgi.

*****

Yohanes Dwi Harsanto Pr (Sekretaris Eksekutif komisi Kepemudaan KWI) Ditulis di Maumere, 24 Mei 2008, saat bersama OMK Regio Nusa Tenggara.

Terima kasih kepada para teman berbincang: Rm Y Subagyo Pr, Sdr Hanny, Sdr Ari, Rm Ruki SJ, Rm Deshi SJ, Rm Yumar SJ, Sdr Xaxa, Mas Felix. Tulisan di atas sudah pernah dimuat di Majalah Liturgi, Komisi Liturgi KWI, tahun 2008. Terima kasih atas ide dan masukan dari Rm Bosco Da Cunha O.Carm (Sekretaris Eksekutif Komisi Liturgi KWI) mengenai OMK dan Musik Liturgi, yang membuat makalah ini makin lengkap. Makalah ini pernah dimuat di Majalah LITURGI, terbitan Komisi Liturgi KWI, 2008.

Terima kasih kepada Romo Boli Ujan SVD, mantan sekretaris eksekutif Komisi Liturgi KWI turut membantu penyempurnaan artikel ini.


dikutip dari http://www.katolisitas.org/7805/orang-muda-katolik-omk-dan-liturgi

baca selanjutnya...

Kamis, 23 Juli 2015

EKM : Emang Kamu Misa?

Biasanya, setiap mendengar kata EKM kita langsung berpikir soal Ekaristi Kaum Muda. Hmmm… Emangnya ada Ekaristi Kaum Tua atau Ekaristi Anak-anak?

EKM biasanya menjadi perayaan Ekaristi yang digemari oleh anak muda (mungkin juga ada orang tua yang suka). Umumnya dalam perayaan Ekaristi Kaum Muda tata perayaannya dibuat berbeda. Katanya menurut selera orang muda: tarian, musikalisasi puisi, visualisasi cerita kitab suci atau drama hidup sehari-hari, dengan iringan kor maupun band, dengan bintang tamu dan simbol-simbol orang muda. Hal ini ditempuh untuk membantu orang muda berjumpa dengan Yesus dalam perayaan Ekaristi.

Sejauh saya mengerti dan paham hanya ada satu Ekaristi, yaitu Ekaristi yang kita rayakan setiap hari minggu atau hari biasa yang sesuai dengan petunjuk TPE. Yang membedakan adalah intensi atau ujudnya saja. Ekaristi yang satu itu sifatnya perayaan resmi Gereja. Karena sifatnya yang resmi itulah Gereja membuat aturan-aturan untuk memastikan bahwa Ekaristi itu sah dan valid.

Emangnya dengan tata perayaan yang katanya dibuat sesuai selera kaum muda itu, Anda (kaum muda) merayakan misa? Gereja yang kudus mengajarkan dengan teramat jelas mengenai hakekat perjumpaan atau kehadiran Yesus dalam liturgi. Ajaran Gereja ini dengan mudah akan kita jumpai jika kita berani dan mau membuka dokumen Konsili Vatikan II, khususnya SC. Konstitusi tentang Liturgi Suci, Sacrosanctum Concilium, menjelaskan bahwa Kristus selalu hadir dalam diri umat beriman yang sedang berliturgi. Sebab, dalam setiap kegiatan liturgi, kita berkumpul dalam nama Kristus untuk merayakan karya keselamatan Allah. “Dalam karya seagung itu, saat Allah dimuliakan secara sempurna dan manusia dikuduskan, Kristus selalu menggabungkan Gereja, Mempelai-Nya yang terkasih, dengan diri-Nya” (SC 7).

Oleh karena itu, marilah dalam setiap kegiatan liturgi, kita selalu menyadari bahwa Tuhan hadir dalam komunitas atau kebersamaan kita. Dengan kesadaran ini, tentu setiap perayaan liturgi akan kita persiapkan dan kita hayati dengan sungguh-sungguh. Akhirnya, liturgi yang kita hayati dengan sungguh-sungguh ini akan mengalirkan rahmat yang melimpah sehingga kita sehati sejawa dalam kasih dan dapat mengamalkan iman kita dalam kehidupan sehari-hari (SC 10).

Konstitusi Liturgi juga menyatakan: “Kristus hadir dalam kurban Misa, baik dalam pribadi pelayan ‘karena yang sekarang mempersembahkan diri melalui pelayanan imam sama saja dengan Dia yang ketika itu mengorbankan diri di kayu salib’, maupun terutama dalam (kedua) rupa Ekaristi” (SC 7). Betapa agung dan mulianya Kristus yang berkenan hadir di tengah kita umat-Nya melalui diri para pastor atau pelayan Misa ini. Itulah sebabnya, saat memimpin Misa seorang imam benar-benar sedang menjadi alter Christus (Kristus yang lain). Karena Kristus hadiri dalam diri imam saat memimpin Misa itulah, umat berdiri saat imam masuk, atau para petugas menundukkan kepala kepada imam selebran sebelum bertugas.

Kiranya dapat dikatakan bahwa dalam perayaan Ekaristi Kristus sendiri hadir dan menjumpai kita. Luar biasa kan? Nah, perayaan Ekaristi sendiri ya mulai dari awal sampai akhir. Mulai dari ritus pembuka sampai ritus penutup. Jika sudah demikian luar biasa ajaran Gereja, masihkah kita menggunakan argumen “untuk membantu umat berjumpa dengan Tuhan” sebagai pembenaran atas utak atik tata perayaan Ekaristi? Jangan-jangan, “kita melihat namun tidak percaya”. Artinya Kristus jelas hadir tetapi tidak mampu kita lihat. Kristus ada namun kita malah sibuk mencari cara untuk menghadirkan Yesus. Wong sudah hadir kok masih dicari-cari dengan cara ini dan itu.

Gereja mengajarkan bahwa “Kristus hadir dalam Sabda-Nya, sebab Ia sendiri bersabda bila Kitab Suci dibacakan dalam Gereja” (SC 7). Ajaran ini kembali ditegaskan dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) no. 1088. Mengingat agung dan luhurnya kehadiran Tuhan dalam Sabda-Nya, Instruksi Redemptionis Sacramentum menegaskan, “Tidak juga diperkenankan meniadakan ataupun menggantikan bacaan-bacaan Kitab Suci yang sudah ditetapkan, atas inisiatif sendiri, apalagi “mengganti bacaan dan Mazmur Tanggapan yang berisi sabda Allah, dengan teks-teks lain yang bukan dari Kitab Suci” (RS 62). Jelas kan bahwa Yesus hadir dalam sabda-Nya? Lha kok masih berani-beraninya kita mencari-cari kehadiran Yesus dalam sabdaNya itu dengan membuat injil tandingan yang terwujud dalam visualisasi. Teks Injil yang demikian agung justru kita gantikan dengan visualisasi atau drama. Bacalah dan pahamilah, wahai rekan-rekan muda.

Masih ada contoh lain. Konstitusi Liturgi artikel 7: “Kristus hadir, sementara Gereja memohon dan bermazmur, karena Ia sendiri berjanji: Bila dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situlah Aku berada di antara mereka (Mat 18:20)”. Konstitusi Liturgi menunjuk bahwa Tuhan hadir saat Gereja memohon dan bermazmur. Jelas kan jika Yesus hadir ketika umat-Nya sedang berdoa? Tapi coba kita lihat apa yang terjadi pada saat EKM? Ada lho yang selama perayaan Ekaristi malah sibuk dengan SMS atau BBM. Ada yang tidak peduli dengan apa yang terjadi, yang penting bisa menerima komuni.

Ketika omong soal perjumpaan, kita itu ngomong soal sesuatu yang ada dalam diri kita. Kita berbicara soal disposisi batin. Cobalah rekan-rekan muda bertanya bagaimana simbah-simbah kita dahulu menyiapkan diri untuk merayakan Ekaristi. Ada lho yang rela berjalan jauh selama berjam-jam dengan kondisi perut lapar karena berpuasa. Itu semua untuk apa? “Supaya pantas menerima Kristus” adalah jawaban yang sering terdengar. Bagi saya ini jelas: disposisi batin memudahkan kita untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan.

Tanpa disposisi batin yang tepat, Ekaristi hanyalah sebuah tontonan. Kita tinggal duduk menikmati drama visualisasi Injil; mendengarkan salah satu penyanyi yang disorot kamera dan ditampilkan di layar sembari bergumam: “suarane apik yo”, “penyanyine ayu tenan”; atau ritus-ritus lain yang diciptakan untuk “membantu umat bertemu dengan Tuhan”. Atau terserah mau ngapain yang di dalam gereja, yang penting saya bisa terima komuni.

Disposisi batin yang tepat akan membawa kita sampai kepada keterlibatan yang sadar dan aktif. Ada yang bilang, “Kalau gak ada keterlibatan, ya sebetulnya gak ada perayaan syukur bersama, dan kalau gak ada perayaan syukur bersama, berarti imamnya doang yang “bikin misa”. Sejauh mana kita mengartikan keterlibatan? Memberikan kesaksian tentang kegelisahan hidup pada saat ritus tobat? Ikut menjadi pemain dalam visualisasi Injil? Berjabat tangan dengan orang-orang yang ada di gereja?

Kita akan bisa terlibat secara sadar dan aktif dalam berliturgi ketika kita sungguh mengerti dan paham apa yang dimaksudkan oleh Gereja. Seluruh ritus yang ada disusun sedemikian rupa sehingga membantu umat untuk semakin menyadari bahwa Perayaan Ekaristi adalah perayaan iman yang didalamnya kita merayakan karya keselamatan Allah yang terlaksana melalui Yesus dalam Roh Kudus. Dengan mengerti dan memahami makna dari ritus-ritus yang ada, saya yakin kita akan mampu menghayatinya dengan sikap batin yang luar biasa. Ketika kita mampu melakukan dan menghati ritus-ritus itu, itulah keterlibatan yang sadar dan aktif. Masing-masing menempatkan diri seturut peran dan fungsinya.

Akhirnya, jika kita sungguh-sungguh menghayati liturgi dan Ekaristi dengan segala kekayaan maknanya seperti dikehendaki Gereja, kita tentu dikobarkan untuk mengamalkan pengalaman doa atau Ekaristinya itu dalam hidup dan tingkah laku sehari-hari. Pergilah kita diutus! Dan dengan semangat 45 kita menjawab amin.

Namun, kita sering membenturkan Ekaristi dan perutusan. Kita menganggap Ekaristi tidak menggerakkan orang muda untuk terlibat dalam kehidupan. Lalu, yang diutak-atik adalah liturgi. Sungguh, saya tersenyum kecut ketika menjumpai pandangan seperti itu. Gereja jelas mengajarkan: “Liturgi mendorong umat beriman supaya sesudah dipuaskan ‘dengan sakramen-sakramen Paskah menjadi sehati sejiwa dalam kasih’. Liturgi berdoa, supaya ‘mereka mengamalkan dalam hidup sehari-hari apa yang mereka peroleh dalam iman’.” Jika kita belum tergerak untuk mengamalkan, maka persoalan ada pada hidup kita sendiri, bukan pada liturginya. Jika kita mengeluarkan kritikan: terlalu memperhatikan liturgi dan lupa pada praksis hidup, mengapa kita justru menghabiskan banyak waktu untuk mengutak-atik liturgi?

Saya yakin, ketika kita mampu menghayati liturgi dengan baik, rahmat itu akan menjadi daya dorong dan daya ubah untuk hidup kita. Jika belum, mari kita bertanya pada diri kita sendiri: Emang Kamu Misa? Atau jangan-jangan, sepertinya kita misa namun sejatinya Eh, Kita Menonton. Lha kalau nonton ya jangan berpikir soal daya ubah dan keterlibatan dalam kehidupan. Menonton itu puasnya ya ketika nonton. Bisa ampe nangis atau dengan semangat memberikan tepuk tangan. Sesudahnya?

Sumber: Komisi Liturgi KAS.

Dikutip dari: http://santoantonius.blogspot.com/2014/05/ekm-emang-kamu-misa.html

baca selanjutnya...

Rabu, 22 Juli 2015

Etika dalam Merayakan Ekaristi

Pada hari-hari ini di berbagai media sosial dikejutkan dengan Ekaristi Kaum Muda, yang dikemas dengan pertunjukkan drama di depan altar, atau lebih tepatnya di area panti imam, dengan menampilkan anak-anak muda mengenakan busana tak pantas (perempuan: mengenakan hot pants). Sebenarnya sudahkah kita mengerti apa itu altar? Altar Katolik merupakan sebuah altar pengorbanan. Mengapa Altar dihormati? Altar dihormati karena altar melambangkan Tuhan Yesus Kristus sendiri. Tuhan yang telah wafat dan bangkit akan hadir di atas altar dan dari meja ini Dia akan memberikan diri-Nya kepada umat beriman dalam rupa makanan dan minuman ekaristis.

PUMR, 296 merumuskan
Altar merupakan tempat untuk menghadirkan kurban salib dengan menggunakan tanda-tanda sakramental. Sekaligus altar merupakan meja perjamuan Tuhan, dan dalam Misa umat Allah dihimpun di sekeliling altar untuk mengambil bagian dalam perjamuan itu. Kecuali itu, altar merupakan juga pusat ucapan syukur yang diselenggarakan dalam Perayaan Ekaristi.

Altar secara tradisional terbuat dari batu, mengingatkan Kristus sebagai landasan hidup dari iman Katolik:

Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. (Ef 2:19-20)

Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah. Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah. Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: "Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan." (1Ptr 2:4-6)

Tepat untuk memiliki sebuah altar tetap di setiap gereja, karena itu lebih jelas dan permanen menandakan Yesus Kristus, batu hidup.

PUMR 298 dan 301 menerangkan:
- Sangat diharapkan agar dalam setiap gereja ada satu altar permanen, karena altar seperti ini secara jelas dan lestari menghadirkan Yesus Kristus, Sang Batu Hidup ( I Ptr 2:4; bdk Ef 2:20 ). Tetapi di tempat-tempat lain yang dimanfaatkan untuk perayaan liturgi, cukup dipasang altar geser.

Suatu altar disebut altar permanen kalau dibangun melekat pada lantai sehingga tidak dapat dipindahkan; altar disebut altar geser kalau dapat dipindah-pindahkan.

- Seturut tradisi Gereja, dan sesuai pula dengan makna simbolis altar, daun meja untuk altar permanen harus terbuat dari batu, bahkan dari batu alam. Tetapi Konferensi Uskup dapat menetapkan bahwa boleh juga digunakan bahan lain, asal sungguh bermutu, kuat, dan indah. Sedangkan penyangga atau kaki altar dapat dibuat dari bahan apapun, asal kuat dan bermutu.

Altar geser dapat dibuat dari bahan apapun asal, menurut pandangan masyarakat setempat, bermutu, kuat, dan selaras untuk digunakan dalam liturgi.

Kembali ke dalam persoalan awal, perlu dicatat bahwa Gereja adalah tempat kudus. Dari kata Ibrani 'Qadosh', artinya dikhususkan, bukan hal yang generik disama-ratakan dengan tempat lain pada umumnya. Panti Imam adalah area utama di mana dilangsungkan tindak liturgis dan di mana ditempatkan ketiga perabot utama: sedelia (kursi pemimpin), mimbar dan meja altar. Panti Imam dirancang tidak untuk pentas atau pertunjukan drama), Panti Imam juga disebut sanctuarium, yang artinya kudus.

Ketika mengunjungi tempat kudus, sudah selayaknya berpakaian dengan pantas dan sopan, terlebih apabila memasuki Panti Imam.
Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa cara berpakaian yang sopan merupakan bagian dari kebajikan kemurnian, demikian:

KGK 2521 Kemurnian menuntut sikap yang sopan/ bersahaja. Ini adalah bagian hakiki dari pengekangan diri. Sikap yang sopan/ bersahaja memelihara hal-hal pribadi manusia. Ia menolak membuka apa yang harus disembunyikan. Ia diarahkan kepada kemurnian yang perasaan halusnya ia nyatakan. Ia mengatur pandangan dan gerakan sesuai dengan martabat manusia dan hubungan di antara mereka.

KGK 2522 Sikap sopan/ bersahaja melindungi rahasia pribadi dan cinta kasihnya. Ia mengundang untuk bersabar dan mengekang diri dalam hubungan cinta kasih; ia menuntut, bahwa prasyarat-prasyarat untuk ikatan definitif dan penyerahan timbal balik dari suami dan isteri dipenuhi. Dalam sikap sopan itu termasuk pula kerendahan hati. Ia mempengaruhi pemilihan busana. Di mana ia mengira bahwa ada bahaya sikap ingin tahu yang tidak sehat, di sana ia berdiam diri dan bersikap hati-hati. Ia menjaga keintiman orang lain.

KGK 2523 Ada sifat sopan/ bersahaja dalam perasaan dan terhadap badan. Sifat ini menentang, misalnya terhadap penyalahgunaan tubuh manusia yang “voyeuristik” dalam iklan tertentu atau terhadap tuntutan media-media tertentu, sehingga berlangkah terlampau jauh dalam membuka bagian-bagian yang sangat intim. Sikap sopan menggerakkan satu tata hidup, yang berlawanan dengan paksaan mode dan desakan dari ideologi yang berlaku.

KGK 2524 Bentuk ungkapan sikap sopan ini berbeda dari kultur ke kultur. Tetapi di mana-mana terkandung gagasan mengenai martabat rohani yang khas untuk manusia. Ia tumbuh melalui tumbuhnya kesadaran pribadi. Mendidik anak-anak dan kaum remaja dalam sikap sopan/ bersahaja ini berarti membangkitkan hormat terhadap pribadi manusia.

KGK 2533 Kemurnian hati menuntut sikap yang sopan/ bersahaja, yang terdiri dari kesabaran, kerendahan hati, dan perasaan halus. Sikap yang sopan/ bersahaja melindungi keintiman seseorang.

Patut disesalkan diadakannya drama di area panti imam. Altar merupakan tempat yang sentral dalam bangunan Gereja dan pada panti imam. Sudah sejak Gereja Perdana, altar memiliki tempat dan martabat yang sentral dalam Perayaan Ekaristi. Santo Paulus menyebutnya sebagai "meja Tuhan" (1Kor 10:21). Norma liturgi mengatur tata gerak para petugas liturgi kalau di panti imam ada tabernakel dengan Sakramen Mahakudus di dalamnya, maka imam, diakon dan pelayan-pelayan lain selalu berlutut pada saat mereka tiba di depan altar dan pada saat akan meninggalkan panti imam. Tetapi, dalam Misa sendiri mereka tidak perlu berlutut" (PUMR 274).

Pelanggaran berat meliputi berbagai tindakan atau hal yang membahayakan sahnya serta keluhuran Ekaristi Mahakudus, meski untuk menilainya harus juga digunakan ajaran umum Gereja dan norma-norma yang telah ditetapkan. Instruksi Redemptionis Sacramentum No. 173 mencatat dan mendaftar macam-macam hal yang dipandang sebagai pelanggaran berat, yakni tindakan yang bertentangan dengan apa yang diuraikan dalam Instruksi tersebut pada nomor 48-52, 76-77, 91-92, 94, 96, 101-102, 104, 106, 109, 111, 115, 117, 126, 131-133, 138, 153 dan 168. Penyelewengan-penyelewengan lain: Berbagai perbuatan atau tindakan yang bertentangan dengan peraturan-peraturan lain, yang dibahas di lain tempat dalam Instruksi Redemptionis Sacramentum atau dalam norma-norma yang tercantum dalam hukum (RS 174). Setiap orang harus menjamin bahwa Sakramen Mahakudus harus terlindung dari segala pencemaran dan dari setiap nista (RS 183). Setiap orang beriman Katolik berhak untuk melaporkan tentang pelanggaran di bidang liturgi kepada uskup diosesan atau ordinaris. Namun, semua itu harus dibuat dengan kebenaran dan dalam semangat cinta kasih (RS 184). Gereja memberikan aturan-aturan, bukan untuk membatasi atau membelenggu, melainkan untuk menjaga supaya iman yang diwariskan itu tetap terjaga. jika demikian, siapa yang kemudian akan kita ikuti: Gereja atau keinginanku/komunitas untuk melakukan ini dan itu? Hendaklah kita sekalian juga tidak jatuh dalam dosa kelalaian dengan tidak mewartakan apa yang baik dan benar ini.

Sumber:
http://santoantonius.blogspot.com/2015/05/etika-dalam-merayakan-ekaristi.html

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP