Kelompok Paduan Suara di Paroki St. Herkulanus, yaitu: (1) P.S. GITA BAKTI HERKULANUS berlatih rutin tiap minggu sore, (2) P.S. IUVENISH CHORUS beranggotakan para OMK Paroki, (3) P.S. SERAFIM beranggotakan para Pengurus dan Karyawan Yayasan Yohanes Paulus Depok.

Kamis, 08 Maret 2018

Ibadat Tobat

01.Nyanyian Pembuka (MB 366)

02.Tanda Salib dan Salam 
P: Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus
U: Amin
P: Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa kita dan dari Tuhan Yesus, beserta kita
U: Sekarang dan selama-lamanya

03.Pengantar 
Saudara-saudari yang terkasih, dalam rangka merayakan Tahun Yubileum Luar Biasa Kerahiman Allah, pada hari ini Paus Fransiskus mengajak kita umat Katolik di seluruh dunia untuk mengadakan acara doa “24 jam bagi Tuhan”. Dalam acara hari ini, kita akan mengadakan Ibadat tobat bersama, mengaku dosa, mengadakan adorasi, berjalan melewati “Pintu Suci”, merakan Ekaristi dan memperoleh indulgensi.
Kita telah datang secara sukarela ke gereja Katedral ini dengan niat untuk memperoleh pengampunan dan belaskasih dari Allah yang Maharahim. Kita sadari kita ini adalah orang berdosa. Kita akui pula bahwa kita masih sulit mengampuni sesame dan enggan mengaku dosa kepada Tuhan. Karena itu marilah dalam Ibadat Tobat ini kita mohonkan berkat dan rahmat Tuhan agar kita dapat mengaku dosa dengan baik dan memperoleh pengampunanNya.

04.Doa Pembuka
Marilah kita berdoa!
Allah Bapa yang berbelaskasih, kami datang kepada-Mu dengan rasa sesal atas dosa kami. Kami sering berpusat pada kepentingan diri sendiri dan kurang mengarahkan hati kepada-Mu. Kami masih jauh dari hidup penuh kasih kepada-Mu dan sesama. Karuniakanlah sikap tobat sejati kepada kami agar kami dapat menjadi anak-anak-Mu yang sejati, yang hidup sesuai dengan kehendak-Mu. Doa ini kami sampaikan kepada-mu dengan perantaraan Kristus Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa dalam persekutuan dengan Roh Kudus, kini dan sepanjang masa.
Amin


05.Bacaan Injil
P: Tuhan beserta kita
U: Sekarang dan selama-lamanya
P: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (Luk 15:1-7)
P: “Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka." Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan;
P: Demikianlah Injil Tuhan
U: Terpujilah Kristus

06.Renungan (beberapa inspirasi untuk renungan) a. Perumamaan dalam Injil Lukas tadi adalah tanggapan Yesus terhadap orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang kurang senang melihat Yesus membiarkan para pemungut cukai dan pendosa datang mengikuti Dia. Para pemungut cukai dianggap tidak pantas duduk mendengarkan ajaran Taurat.
b. Tetapi Yesus mengajak mereka untuk tidak bersikap kaku dan hanya melihat yang buruk-buruk saja pada orang lain. Jika seorang gembala gembira saat dia berhasil menemukan dombanya yang hilang, demikian pula dengan Allah: Ia akan gembira saat Ia berhasil menemukan anak-Nya yang berdosa kembali kepada-Nya.
c. Pemilik domba itu memiliki “seratus” ekor domba. Seratus itu kelipatan sepuluh. Angka sepuluh melambangkan keutuhan. Maka memiliki “seratus” ekor domba berarti mempunyai kekayaan yang penuh dan melimpah. Tetapi kalau kurang satu saja, maka kekayaan itu tidaklah penuh, apalagi melimpah. Ada kekurangan. Maka pemilik domba berusaha keras untuk menemukan seekor domba yang hilang itu.
d. Yang paling menonjol dalam perumpamaan itu adalah usaha si gembala mencari domba dan berhasil. Ini menggambarkan besarnya perhatian Tuhan kepada kita yang berdosa. Allah belum bersukacita bila masih ada orang berdosa yang tidak bertobat.
e. Marilah kita bertobat sekarang. Tuhan telah membawa kita ke gereja ini. Apa pun dosa kita, marilah kita mengaku dosa kita, memperbaiki diri, berdamai dengan Tuhan dan sesame. Dengan itu kita tidak hanya sehat secara rohani, karena memperoleh kerahiman Tuhan, tetapi juga kita menjadi sehat secara jasmani karena kita dibebaskan dari beban batin kita.

07.Pemeriksaan Batin
Didahului dengan nyanyian: MB no.369
Beberapa pertanyaan bantuan utnuk pemeriksaan batin:
Apakah aku memiliki kerinduan untuk berdamai dengan Allah, sesama dan diri sendiri?
Apakah aku mau hidup sesuai dengan ajaran Yesus: mencintai Allah dan sesama seperti diri sendiri? Apakah aku mau hidup seperti Kristus dengan mengasihi, mengampuni orang lain, rela berbagi dan berkorban untuk kepentingan bersama?
Apakah aku ada meluangkan waktu untuk berdoa sendiri?
Apakah aku ke gereja setiap Minggu? Ke pertemuan lingkungan? Memberikan waktu yang cukup untuk keluarga?
Apakah aku menyembah berhala? Memuja materi, kenikmatan, dan kesenangan diri?
Apakah aku tidak bisa lepas dari ketagihan memakai HP, nonton TV, pornografi?
Apakah aku menghormati orangtua? Aku berbohong? Berbuat cabul, zinah? Melakukan dosa abortus? Mencuri? Bertindak tidak adil? Apakah aku melakukan pantang, puasa, dan beramal? Dlsb.

08.Pernyataan Tobat  P: Saudara/i terkasih, Allah Bapa di surga mengetahui isi hati kita, bahkan yang tersembunyi sekalipun. Semua dosa dan kejahatan yang kita rahasiakan di depan orang, bukanlah rahasia bagi Tuhan. Maka marilah kita sadari bahwa kita ini sungguh berdosa, dan sekarang kita mau bertobat dengan sungguh-sungguh. Untuk itu marilah kita ucapkan Doa Tobat bersama-sama:
U: Allah yang Maharahim, aku menyesal atas dosa-dosaku, sebab patut aku Engkau hukum, terutama sebab aku telah menghina Engkau, yang mahamurah dan mahabaik bagiku. Aku benci akan segala dosaku, dan berjanji dengan pertolongan rahmat-Mu, hendak memperbaiki hidupku dan tidak akan berbuat dosa lagi. Ya Tuhan, kasihanilah aku, orang yang berdosa ini.

09.Doa Penutup P: Marilah kita berdoa: Allah Bapa yang Maharahim, tunjukkanlah belaskasih-Mu kepada kami yang berdosa ini. Berilah kami rahmat-Mu agar kami dapat mengaku dosa dengan baik, dapat memperbaiki diri dan membangun niat untuk hidup kembali ke jalan yang benar dan kudus. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. U.Amin.
10. Nyanyian Penutup: Madah Bakti 371
11. Penerimaan Sakramen Tobat secara pribadi.

baca selanjutnya...

Jumat, 16 Februari 2018

Surat Gembala APP Keuskupan Bogor 2018

 
 “AKU KATOLIK –AKU INDONESIA
SELAMATKAN TANAH AIR KITA”

Saudara-saudariku, umat Keuskupan Bogor terkasih,
Semoga damai Tuhan berlimpah dalam hatimu.

Laksanakan Retret Agung: Masa Prapaskah
Masa Prapaskah adalah saat kita melakukan retret Agung bersama-sama dan secara pribadi. Masa ini dimulai pada Hari Rabu Abu, 14 Februari dan berakhir pada hari Jumat Agung, 30 Maret 2018. Pada masa ini, seruan-seruan Yesus dan para nabi bernada ajakan untuk bertobat, berpuasa dan beramal menghiasi khotbah-khotbah, tulisan-tulisan prapaskah, renungan-renungan di lingkungan, wilayah, paroki.
Yesus mengingatkan para muridnya: “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka. Berilah sedekah dan jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu” (Bdk.Mat 6:1-4). Yesus berseru lagi: “Janganlah berdoa seperti orang munafik; berpuasalah” (Bdk 6,5). Sedangkan Nabi Yoel mengingatkan orang Israel dengan seruan tegas: “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan penuh kasih setia. Adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya” (Bdk. Yoel 1:14). 
Aku Katolik: Semakin serupa dengan Kristus Yang tersalib
Saudara-saudariku terkasih,
Retret Agung ini mesti mendorong kita semua untuk hidup semakin serupa dengan Kristus yang wafat dan bangkit bagi kita. Dalam tuntunan roh Kristus itu, kita melakukan gerakan pertobatan, pembaruan hati dan mengimplementasikan kesetiakawanan sosial dalam tindakan. Gerakan pertobatan dan pembaruan kita sebagai satu keuskupan mengarah pada semakin teguhnya komitmen kita sebagai pengikut Kristus (komitmen kekatolikan), semakin kuatnya tekad kita untuk berkarya nyata demi memajukan kesejahteraan umum bangsa kita (komitmen kebangsaan), dan semakin rela serta bersukacita mengerjakan kesetiakawanan sosial demi menyelamatkan bumi dan air di tanah air Indonesia tercinta.

Bertobat: Aku berkomitmen sebagai Duta Kristus yang hebat
Seruan Yesus “bertobatlah dan percayalah kepada Injil” selaras dengan penegasan nabi Yoel untuk berbalik kepada Tuhan dan mengoyakkan hati, bukan pakaian. Tindakan berbalik kepada Tuhan terjadi karena percaya pada sosok Allah yang maha pengasih, panjang sabar dan penuh kemurahan hati. Pesona Allah itu diperlihatkan oleh Yesus Kristus, sang Penyelamat tersalib itu. Pola hidup dan pendekatan manusiawi, yang dilakukanNya melalui ajran-ajaran, tindakan-tindakanNya begitu menggerakan banyak orang sehingga mereka mengubah hidup dan komitmennya. Ingatlah kisah Rasul Petrus, Andreas, Zakheus, Mateus, Maria Magdalena dan Paulus. Mereka siap diutus sebagai duta Kristus yang hebat. Ajaran dan teladan hidup Yesus Kristus bermuara pada cinta akan Allah, sesama manusia dan alam semesta. Kini dan di sini, hic et nunc, mari kita teguhkan komitmen kita: “Aku siap diutus sebagai duta Kristus yang hebat”. Dengan demikian, Gereja kita semakin kokoh dalam imannya, teguh memaknai keberadaannya dan bersambung rasa dengan umat manusia yang sedang berziarah di dunia ini” (Bdk. GS 1). Gereja juga membuka dialog dengan negara dan masyarakat (Bdk EG.183). 

Aku Indonesia: Adakan dan Rayakan Gerakan Kebangsaan: sebuah Kesetiakawanan Sosial  Seruan Yesus dan Nabi Yoel perlu diimplementasikan dalam situasi kekinian umat Keuskupan Bogor. Mencermati tanda-tanda zaman now, kami menyerukan: “Umatku, adakan dan rayakan gerakan-gerakan kebangsaan. Tingkatkan aksi kesetiakawanan sosialmu sebagai bagian utuh dari komitmenmu sebagai duta Kristus yang hebat”. Sebab “iman tanpa perbuatan (gerakan kebangsaan) adalah mati”, seru Rasul Yakobus (Bdk Yak 2,17). Paus Fransiskus mengingatkan kita:” Iman sejati – yang tak pernah nyaman atau sepenuhnya individual – selalu melibatkan hasrat mendalam untuk mengubah dunia, meneruskan nilai-nilai, meninggalkan dunia ini agak lebih baik daripada ketika kita temukan” (EG 183). Penegasan “Aku Indonesia” mengandung komitmen kebangsaan. Artinya, kita memiliki keyakinan teguh untuk ikut serta mengembangkan bangsa dan tanah air Indonesia atas dasar Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Kita mengembangkan bangsa dan tanah air Indonesia itu menjadi “rumah kita bersama”—tempat semua orang Indonesia mengalami hidup dalam damai, sejahtera dan bersaudara. Komitmen keindonesiaan mengandung spirit kesetiakawanan sosial, yang merupakan daya batin dan kerelaan hati untuk merasakan senasib, sepenanggungan dan saling membutuhkan satu terhadap yang lain. Kesetiakawanan sosial terwujud dalam sikap peduli dan saling berbagi. Sikap peduli dan saling berbagi dikonkretkan dalam gerakan-gerakan dan kegiatan kebangsaan. Gerakan-gerakan itu antara lain:
  1. Gerakan peduli akan pengamalan nilai-nilai Pancasila. Adakan dan rayakan momen-momen kenegaraan bersama elemen bangsa lainnya, seperti pada peringatan hari raya Kemerdekaan Indonesia atau Hari Kesaktian Pancasila, dll, dengan mengadakan doa bersama, gerak jalan bersama, bakti sosial bersama. Dengan demikian kita berjuang bersama membangun masyarakat yang beradab, adil dan saling menghargai. Dialog lintas iman dan dialog budaya, serta dialog dengan pejabat-pejabat negara, para anggota wakil rakyat diciptakan.
  2. Gerakan pertobatan sakramental, berpuasa dan bersedekah ditingkatkan. Penuhilah bilik-bilik pengakuan dosa di gereja-gerejamu; isilah kotak-kotak derma dengan sukacita dan tulus. Hapuskanlah hutang-hutang iri hati, dendam kesumat yang terpendam dalam hatimu. Berpestalah karena kita sudah berbalik kepada Allah, mengasihi sesama dan alam ciptaan ini.
  3. Gerakan melibatkan diri dan terjun dalam kehidupan berpolitik berwawasan nasional. Maka dalam peristiwa PILKADA 2018, dan PILEG PILPRES 2019, semua umat yang mempunyai hak memilih mesti ikut aktif. Pilihlah pejabat-pejabat publik yang terbukti dan konsisten bertekad membangun kesejahteraan semua orang di kota, kabupaten dan provinsi.
  4. Gerakan merayakan Paskah, sebagai kebangkitan dan tekad kita untuk bekerja bersama Kristus yang bangkit membarui dunia ini. Bersama Dia, kita memberantas korupsi, tidak kompromi dengan kelompok-kelompok politis yang berorientasi hanya mencari kekuasaan demi kepentingan golongannya.
  5. Gerakan ekologis menyelamatkan tanah-tanah dan air dari pencemaran-pencemaran akibat kerakusan, ketamakan kita. “Bertobatlah” dari menyiksa alam, memperkosa tanah dan air melalui perilaku kita yang tidak ramah lingkungan. Mari kita menciptakan keharmonisan hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan seluruh ciptaan dan manusia dengan sang Pencipta.
  6. Gerakan membangun masyarakat cinta damai dan keramahan sejati dimulai dari rumah kita “Ecclesia domestica”, hingga masyarakat kota dan bangsa
Semoga berkat doa-doa Bunda Maria, Bunda Gereja, kita menyongsong dengan riang gembira Fajar Paskah Kristus, yang membarui seluruh hidup kita. Selamat memasuki masa Prapaskah.

Bogor, 3 Februari 2018
Mgr. Paskalis Bruno Syukur
Magnificat Anima Mea Dominum

Sumber: http://keuskupanbogor.org/4450-2/

baca selanjutnya...

Selasa, 13 Februari 2018

Santa Parawan Maria Berduka Cita

Kapan pesta ini diperingati?
Pesta ini diperingati/ dikenangkan oleh Gereja setiap tanggal 15 September.  

Dimana pesta ini mulai?
Pesta ini mulai di Jerman dan kemudian disebarluaskan oleh Paus Benediktus XIII pada tahun 1721 dengan memasukkannya dalam penanggalan liturgi Romawi. 

Mengapa Maria disebut Bunda Berdukacita?
Maria disebut Bunda Berdukacita karena sepanjang perjalanan hidupnya bersama Yesus, Puteranya dalam karya agung penyelamatan umat manusia, Maria mengalami banyak penderitaan dan dukacita. Ia menyertai Yesus hingga akhir hayat-Nya. Oleh karena itu Gereja menamai Maria, Bunda Berdukacita (“Mater Dolorosa”). 

Manakah peristiwa-peristiwa yang menunjukkan kedukaan Maria? 
Seluruh penderitaan Maria diringkas oleh Gereja dalam 7 jenis kedukaan yang diambil dari 7 peristiwa berikut: 
  1. Kedukaan sewaktu Simeon meramalkan apa yang akan terjadi atas diri Yesus, Anaknya sewaktu ia dan Yusuf mempersembahkan Yesus di Bait Allah. 
  2. Kedukaan sewaktu pengungsian ke Mesir. 
  3. Kedukaan sewaktu ia bersama Yusuf mencari Yesus di Yerusalem. 
  4. Kedukaan sewaktu bertemu dengan Yesus di jalan salib menuju puncak Kalvari. 
  5. Kedukaan sewaktu menyak-sikan Yesus disalibkan dan wafat. 
  6. Kedukaan sewaktu jenazah Yesus dibaringkan di pangkuannya. 
  7. Kedukaan sewaktu Yesus dimakamkan. 

Mengapa Maria sanggup menanggung semua kedukaan itu?
Maria sanggup menanggung semua penderitaan itu dengan tabah  karena  iman.  Ia telah mengatakan dengan bebas kepada Malaekat Allah: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-mu itu”. Ia setia menanggung segala resiko atas jawaban “ya” pada kehendak Allah.
Apa makna/pesan bagi kita?
  1. Dengan meneladani Bunda Maria Berdukacita, semoga kita pun dapat mempersatukan segala penderitaan kita dengan sengsara Kristus, serta menghadapinya dengan tabah, penuh kasih dan iman.
  2. Kita yang menjadi murid-murid Yesus dituntut untuk menyadari realitas iman dengan belajar pada Bunda Maria. Tetap tabah dan tekun memanggul salib dan pen-deritaan kita setiap hari.
Salib, penderitaan dan dukacita  adalah sesuatu yang dasariah dalam penghayatan iman kita akan  Yesus, sebagai sarana pemurnian iman kita. Sebab melalui penderitaan dan salib itu, seperti yang telah diajarkan dan dilaksanakan oleh Yesus, kita akan mencapai kejayaan dan kemenangan.
~P. Yulius Tangke Bandaso, SX
Sumber: https://santopauluspku.wordpress.com/2014/09/15/santa-parawan-maria-berduka-cita/

baca selanjutnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP